Naik Ojek Online di Stasiun Jogja

PENAFIAN: Tulisan ini dibuat sesuai dengan kondisi pada saat diterbitkan (10 Oktober 2018), kondisi saat ini mungkin saja telah berubah seiring dengan dinamika perkembangan Kota Jogjakarta.

Sudah delapan bulan belakangan ini saya sedikitnya dua minggu sekali selalu melakukan perjalanan Jakarta-Jogjakarta karena anak dan istri sementara ini tinggal di Jogja. Hampir setiap kali pulang ke Jogja saya selalu memilih moda transportasi kereta api. Harga tiket untuk kelas non-PSO (ekonomi premium, bisnis, eksekutif) masih lumayan bisa saya beli.

Awal tahun lalu saya masih lumayan santai setiap kali tiba di stasiun karena begitu saya turun kereta, bisa langsung order Go-Jek, Grab, atau Uber (dulu Uber masih ada) dan dijemput tukang ojek tepat di depan pintu keluar stasiun. Namun, semenjak ada beberapa kali keributan antara ojol dan opang di berbagai daerah, rupanya Jogja hampir tak luput dari provokasi ojol vs opang.

Di dua stasiun utama Jogjakarta (Stasiun Tugu dan Lempuyangan), sekarang sudah ada “pembagian wilayah” antara ojol dan opang. Seperti halnya di beberapa kota lain, ojol tak bisa sembarangan mengambil sewa penumpang di pusat-pusat keramaian. Karena pembagian ini, tukang ojek online tidak mau menjemput penumpang di pintu keluar stasiun. Berikut ini lokasi penjemputan ojek online sekitar stasiun di Yogyakarta:

Stasiun Yogyakarta/Tugu

Di Stasiun Yogyakarta (stasiun Tugu), lokasi pick-up atau penjemputan penumpang ada di seberang Hotel Neo (buka di google maps). Untuk menuju lokasi tersebut, calon penumpang keluar melalui pintu selatan, kebetulan sekarang yang dibuka hanya pintu selatan sebagai pintu keluar penumpang. Dari pintu selatan cukup berjalan kaki keluar gerbang dan menyusuri trotoar ke arah kiri tanpa menyeberang jalan raya ke arah Hotel Neo, searah dengan kalau mau jalan kaki ke Malioboro. Trotoarnya lumayan lebar dan selalu ramai. Lokasi Hotel Neo ada di sebelah kanan jalan.

Lokasi penjemputan ojol Stasiun Tugu (maps via Apple Maps)

Supaya lebih gampang, saya gambarkan di tangkapan layar peta. Ada zona yang saya tandai warna merah di sebagian Jl. Pasar Kembang dan di dalam kompleks stasiun. Jangan minta jemput tukang ojek online di area tersebut. Berjalanlah sesuai yang saya tunjukkan tadi, menuju area Hotel Neo.

Stasiun Lempuyangan

Di Stasiun Lempuyangan lokasi penjemputan ada di bawah jembatan layang/ flyover (buka di google maps). Begitu keluar gerbang Stasiun Lempuyangan, berjalan ke kiri menyusuri jalan raya sampai ujung pertigaan di bawah jembatan layang. Selanjutnya, berjalan ke kiri menyeberang perlintasan kereta sebidang. Lokasi penjemputan tepat di sebelah perlintasan sebidang dan tempat putar balik kendaraan (U turn), berupa taman kecil di pinggir jalan.

Sepanjang Jalan Stasiun Lempuyangan merupakan zona merah. Demi kebaikan bersama, jangan meminta jemput di zona merah. Jalan saja sedikit ke arah perlintasan di bawah jembatan layang. Khusus lokasi di bawah jembatan layang ini, ada baiknya pastikan tidak sendirian karena lokasinya agak sepi. Kalau sepi, sebaiknya tunggu saja tepat di pertigaan sebelum melewati perlintasan sebidang. Lokasi tersebut lumayan terang dan ada angkringan juga di pertigaan.

Lokasi penjemputan ojol Stasiun Lempuyangan (maps via Apple Maps)

Untuk penumpang ojek online yang menuju Stasiun Tugu maupun Lempuyangan, sejauh ini tidak ada masalah untuk menurunkan penumpang di dekat pintu masuk stasiun.


Tulisan ini dibuat karena ada pengunjung nyasar di blog ini via google search dengan kata kunci lokasi pesan ojek online stasiun lempuyangan.

Becak, Go-Jek, Go-Car di Jogjakarta

[vc_row][vc_column][vc_column_text]Sore itu saya ada keperluan mengangkut beberapa foto pernikahan saya dengan dik Data, hanya empat foto berukuran besar beserta bingkainya. Saya datang ke rumah fotografer pernikahan saya mengendarai sepeda motor. Sedianya mau saya angkut dengan sepeda motor saja, tapi ternyata ukuran foto dan bingkainya terlalu besar kalau diangkut dengan sepeda motor. Saya dan dik Data memutuskan untuk menggunakan jasa transportasi berbasis online, Go-Car. Dalam percakapan dengan pengemudi melalui telepon sebelum penjemputan, pertanyaan pertama dari pengemudi adalah jumlah penumpang.

Lain waktu, saya juga ada keperluan pulang selepas acara resepsi pernikahan di Wisma KAGAMA menuju rumah mertua di daerah sekitar Sleman. Lantaran sudah dalam kondisi lelah, saya dan dik Data memilih menggunakan layanan Go-Car lagi supaya tidak perlu jalan kaki terlalu jauh. Percakapan dengan pengemudi sebelum penjemputan pun diawali dengan pertanyaan jumlah penumpang.

Beberapa kali saya pesan pun juga demikian. Saya bahkan mengira bahwa kebanyakan orang di Jogja pesen Go-Car untuk keperluan rombongan yang terdiri dari banyak orang. Bisa juga pengemudi ogah-ogahan ngambil orderan yang banyak orang begituan. Suatu waktu didasari rasa penasaran yang tinggi karena sudah kejadian berulang-ulang, saya dalam perjalanan menggunakan Go-Car pada suatu pemberhentian lampu merah perempatan gejayan yang luamaaaaa ngaudubilah, saya bertanya ke pengemudi,

“Pak, di Jogja banyak juga pak pengguna layanan Go-Car? Kalau di Jakarta itu banyak pengemudi bilang orderan ga pernah berhenti.”
“Ya sama Mas, di Jogja juga gitu. Tapi kita kalau mau ambil juga pilih-pilih. Saya kalau orderan dibawah 30 ribu nggak saya ambil.”

“Lho kenapa pak?”
“Ya kalau dibawah 30 ribu itu kan biasanya untuk jarak deket. Itu juga kalau ada diatas 30 ribu saya juga tanya berapa penumpang. Kalau hanya satu penumpang dan bawaan dikit ya saya saranin naik Go-Jek aja. Makanya tadi saya nanya dulu penumpangnya berapa orang.”

“Kalau di Jakarta sih mau berapa aja juga diambil pak. Yang penting nggak nombok operasional aja.”
“Perhitungan operasional juga kayak misal jemputnya jauh gitu kan mending nggak diambil. Ya, kalau gini kan kita juga bagi-bagi segmennya Mas. Jadi nggak ada rebutan. Kalau jarak jauh diatas 30 ribu banyak orang apa banyak bawaan ya pake taxi atau Go-Car. Kalau yang cuma satu orang dan agak jauh kita saranin pake tukang ojek apa Go-Jek. Yang deket-deket sekilo dua kilo biar becak yang ngambil. Gitu kan jadi fair mas. Sama-sama enak.”

“Itu emang kesepakatan atau gimana, Pak?”
“Ya nggak ada mas. Cuma dari mulut ke mulut aja. Ya kesadaran masing-masing aja lah mas. Kan nggak baik juga kethoho (serakah). Sesama yang biasa di jalan udah tau lah yang begituan mas di sekitar sini.”

Astagfirullah, selama ini saya sudah berprasangka buruk pada pengemudi-pengemudi yang dalam pembicaraan di telepon selalu menanyakan jumlah penumpang terlebih dahulu.

Lain kejadian, kawan saya suatu pagi tiba di stasiun Tugu dan memesan layanan Go-Jek untuk tujuan Kilometer Nol (Kantor Pos). Beberapa kali order tetapi tidak ada pengemudi Go-Jek yang ambil meski banyak mitra pengemudi Go-Jek di sekitar stasiun Tugu. Sekalinya ada yang ambil ordernya, pengemudi menghubungi kawan saya itu dan menyarankan untuk naik becak saja kalau cuma untuk jarak dekat. Kawan saya nggrundel, “mau dapet rejeki kok ditolak, sombong amat tukang ojek di sini.”

Yah begitulah. Tanpa menyelidiki latar belakangnya, seringkali menungsolebih mudah mengungkapkan sisi kekurangan menungso lain dan disesaki oleh prasangka buruk.

Ternyata dari beberapa contoh tadi mungkin ada benarnya apa yang diungkapkan pak pengemudi. Bisa jadi itu juga yang mendasari kenapa jarang ada percekcokan antara yang online dan offline di Jogja.

Semoga yang demikian bisa menjadi pembelajaran bagi saya supaya lebih berhati-hati dalam berprasangka tanpa didasari informasi lengkap. Menyegerakan diri mencari informasi lebih lengkap dan benar saat mulai berprasangka buruk.

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]