Setiap Batu Punya Cerita: Karang Sambung 1

Hari ini adalah hari pertama di Karangsambung dalam rangka Geological Field Camp. dengan sedikit fieldtrip berdurasi sekitar 3 jam rasanya sudah cukup untuk sekedar mengamati kondisi geologi secara umum dari daerah pengamatan Karangsambung. Karangsambung adalah Kampus Lapangan LIPI yang sudah dijadikan Cagar Alam Geologi. Sebenarnya ada beberapa cerita yang seharusnya saya tuliskan dalam satu posting ini, tapi rasanya tak enak kalau terlalu panjang. Cukup lah kalau saya mengambil satu titik pengamatan saja untuk sedikit diinterpretasikan dan diidentifikasi.

Sungai Lukulo bisa dikatakan source utama dari Karangsambung. Menuju Karangsambung itu sendiri memang harus melalui sungai Lukulo ini. Yang saya ceritakan hanyalah sedikit kisah dari Lukulo, yaitu bentuk aliran sungai yang unik melikuk-likuk layaknya ular. Sebenarnya bentuk meliuk ini seperti pada Bengawan Solo jaman dahulu sebelum dilakukan normalisasi.

Bentuk yang berliku-liku ini sebenarnya ada keuntungannya karena dengan bentuk yang berkelok ini bisa mengurangi kecepatan aliran sungai, yang selanjutnya akan terasa saat terjadi banjir karena aliran air “diperlambat” jadi tidak terjadi banjur bandang. Ini yang terjadi di Sungai Lukulo.

Sekarang kita bandingkan dengan Bengawan Solo. Dahulu bentuk bengawan solo juga berkelok seperti halnya Sungai Lukulo. Tetapi karena dilakukan normalisasi aliran Bengawan Solo “diluruskan”, alasannya tentu agar di sekitar Solo tidak terjadi banjir. Bisa diilustrasikan sebagai berikut:

Karena dari hulu sungai terus terjadi erosi, akibatnya di sekitar sungai tetap terjadi pengendapan dan pendangkalan. Sama halnya pengendapan sebelum dilakukan naturalisasi (pelurusan aliran sungai). Pada bentuk melengkung, kecepatan aliran air sungai diperlambat saat melalui belokan-belokan sungai. Setelah dilakukan naturalisasi aliran sungai menjadi lurus dan tidak ada “rem” untuk memperlambat kecepatan aliran sungai, sesuai hukum fisika mengenai energi kinetik, karena kecepatan yang besar akibatnya energi yang dibawa pun juga besar, ketika terjadi banjir maka terjadi multiplikasi (pengalian) antara massa yang besar dengan kecepatan yang besar, sehingga terjadi banjir bandang yang pastinya merusak, atau setidaknya mengangkut lumpur.

Sekarang apa yang terjadi jika terjadi banjir di Bengawan Solo? Karena pengendapan, Solo kini kembali terancam terendam banjir. Tak hanya Solo, wilayah-wilayah yang dilalui Bengawan Solo pun ikut terkena imbasnya.

Penulis: Muh.Ahsan

Geoscience application specialist, technical evangelist, music lover, movie buff, and active blogger.

Tinggalkan Tanggapan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.