Antara Maju atau Tidak Maju

Ini pertanyaan buat yang sering ikut ibadah sholat Jumat. Apa yang akan kamu lakukan?

Sesaat sebelum sholat dimulai kamu sudah merapatkan dan meluruskan barisan sholat meski ada di posisi paling belakang, sudah meletakkan barang bawaan (sebut saja HP, dompet, jam tangan, dan kacamata) tepat di depanmu. Sesaat sholat sudah dimulai, salah seorang di baris tepat depan kamu maju sehingga depanmu persis kosong.

Bimbang antara mau maju mengisi barisan yang ada kosong di depan sementara barang-barang bawaan (HP, dompet, jam tangan, dan kacamata) ditinggal, atau biarkan saja baris depan tetap kosong, atau ambil barang-barang kita kemudian maju mengisi barisan depannya yang kosong.

Kadang kejadian begini membuat beberapa saat tidak konsentrasi dalam beribadah. Tapi akhir-akhir ini saya tidak pernah meletakkan barang-barang bawaan tepat di depan sholat. Maksudnya jam tangan dipakai saja, dompet tetap di kantong, dan HP di saku celana. Jadi kalau ada kejadian demikian nggak sungkan-sungkan untuk maju. Toh tidak ada barang yang “tertinggal”.

Gambar "Sholat Berjamaah" hanya ilustrasi,
Gambar disadur dari Catatan Ukh Aisyah.

Revolusi Digital, Lambatnya Adopsi di Sektor Transportasi

Demonstrasi Taxi Reguler
Demonstrasi Taxi Reguler

Pekan ini cukup ramai di Jakarta mengenai pertentangan antara layanan transportasi reguler (sebut saja begitu) dan layanan transportasi berbasis aplikasi online. Layanan transportasi reguler yang saya maksud adalah layanan yang disediakan oleh semacam misal taxi biru, taxi putih, kopaja, dan metromini. Sedangkan layanan transportasi berbasis aplikasi online sebut saja Uber, GrabCar, GoJek, dan GrabBike. Sesederhana mungkin inti dari permasalahannya karena preferensi konsumen yang cenderung berubah seiring dengan kehadiran era digital. Meminjam istilah pak menteri, kita sudah memasuki revolusi digital.

Sektor transportasi saya rasa untuk kali ini menarik untuk dibahas. Karena sektor ini salah satu terdampak dari revolusi digital yang terekspos luas ke masyarakat. Layanan transportasi berbasis aplikasi sejak trend popularitasnya naik di akhir 2014 sudah terlihat akan hadirnya potensi permasalahan di kemudian hari. Paling terlihat mengenai perijinan, pajak jasa transportasi, permasalahan keamanan, dan tentu saja soal legalitas operasionalnya.

Jauh sebelum ada keramaian mengenai aplikasi onlline ini, sebenarnya sektor transportasi pernah lebih dulu memulai revolusinya, misal pemesanan tiket kereta api secara online memudahkan konsumennya (yang kebetulan saat itu Direktur Utama-nya Pak Jonan). Bayangkan, sebelum pemerintah punya pikiran online saja Pak Jonan beserta jajaran staff-nya bisa membaca potensi peningkatan pelayanan di sektor transportasi dengan bantuan sistem online. Apa ya perlu minta Pak Jonan naik jabatan jadi Dirut BlueBird atau Dirut Kopaja?

Menilik lebih jauh, sebenarnya aplikasi online BlueBird ada lebih dulu sebelum aplikasi semacam Uber atau Grab populer. Jika dibandingkan dengan aplikasi serupa terlihat bahwa aplikasi BlueBird masih kalah dalam hal promosi yang berimbas ketidakpopuleran aplikasinya. Saya sendiri pernah melakukan registrasi penggunaan aplikasi BlueBird pada awal tahun 2015, jauh-jauh hari sebelum saya memasang aplikasi layanan transportasi berbasis online lain. Saya baru menggunakan aplikasi Uber pada bulan Februari 2016 (baru dua bulan sebelum tulisan ini dibuat).

Pengalaman buruk saya, saya memesan taxi dengan titik penjemputan di gedung smping Bank Mandiri Mampang yang notabene hanya seberang jalan dari kantor pusat BlueBird. Sampai ada yang pick-up pesanan saya butuh waktu hampir 10 menit, ditambah lagi taxi baru sampai di lokasi penjemputan hampir 15 menit berikutnya. Bukan waktu yang singkat untuk orang yang sedang terburu-buru. Bahkan menurut saya masih lebih cepat kalau saya nunggu taxi yang lewat di pinggir jalan, tentu dengan konsekuensi kehujanan dan panas-panasan. Kekurangannya lagi, sistem-nya waktu itu belum memfasilitasi ruang feedback seluas-luasnya bagi konsumen untuk memberikan rating atau komentar atas layanan yang diberikan. Bagaimana korporat dapat mengevaluasi dengan baik driver maupun layanannya dengan hanya sedikit masukan dari konsumen?

Ketika saya coba membandingkan dengan sistem aplikasi layanan transportasi berbasis online yang tengah populer saat ini (sebut saja Uber), sebenarnya perusahaan taxi reguler bisa meniru cara komunikasi serupa Uber, cara komunikasinya lho ya bukan pelat hitam mobilnya. Sebut saja perlu penambahan fasilitas smartphone, yang sebenarnya biayanya bisa sepadan dengan sistem radio komunikasi yang tertempel di dashboard sekaligus menggantikan fungsi GPS. Ganti sistem radio (entah apa itu namanya) dan perangkat navigasi GPS dengan smartphone.

Selain mengenai kelambatan adopsi teknologi, perusahaan jasa transportasi juga perlu belajar soal preferensi konsumen. Konsumen selain menyukai kemudahan pemesanan juga menginginkan ruang yang lega saat menggunakan jasa transportasi, kenyamanan di dalam kendaraan, dan tentu saja murah. Kadang ada juga penumpang yang menginginkan untuk tampil elegan seolah-olah diantarkan dengan mobil pribadi (meski sebenarnya juga mobil rental).

Pekan ini kita baru mendengar keramaian di sektor transportasi. Sementara kedepan kita bisa jadi akan mendengar keramaian serupa dari sektor lain semisal perdagangan, pendidikan keterampilan, dan jasa perbankan. Ah, atau mungkin saja justru pak Rudiantara terlalu cepat memulai Revolusi Digital.

Gambar "Demonstrasi Taxi Reguler" dari Tempo Bisnis.

Install Paradigm di RHEL 7.2

Salah satu adik kelas saya pernah menanyakan bagaimana cara install aplikasi Paradigm di workstation yang ada di laboratorium geofisika. Tentu saya bingung kalau harus menjelaskan dalam kalimat atau capture gambar per gambar proses instalasi yang saya rasa akan sangat panjang kalau saya dengan sangat selo melakukannya. Akhirnya saya buatkan videonya, meski tanpa suara tapi saya rasa video instruktif ini dapat dengan mudah diikuti.

Lima Malam di Bandung

Seperti yang kutulis sebelumnya, minggu ini aku benar-benar jarang menulis. Pasalnya, semenjak hari Senin sampai Jumat kemarin aku mengikuti acara pelatihan dari pagi sampai sore dari pukul 08.00 sampai 17.00. Nah, tentu saja ini pelatihan yang sangat melelahkan, apalagi materi-materi pelatihan beberapa diantaranya merupakan hal baru bagiku. Untungnya, Pak Diego Vasquez yang ngajari itu pinter banget dan ngerti cara ngajarinya.

Eh, tapi kali ini aku gak bakalan bahas materi training kok. Santai…

Jadi ceritanya aku sampai Bandung hari Minggu siang menjelang sore. Ya, kira-kira jam tanggung untuk makan. Kalau makan mesti malemnya laper lagi, kalau nunggu agak malem ya sebenernya udah keburu laper. Ada yang sering mengalami masalah serupa?

Btw, aku ke Bandung berangkat tiga orang y.i aku, mbak Tika (temen kantor), dan satu sopir. Nah sore itu ketiganya emang dalam kondisi nanggung antara mau makan atau menunda lapar. Jadilah sesampai di Bandung sebelum masuk hotel kami cari cemilan. Kebetulan di seberang jalan tak jauh dari hotel ada satu tempat makan yang katanya lumayan enak. Orang Malang tak dapat ditolak, mujur mungkin dapat diraih. Kami tak mendapati apa yang kami inginkan. Mau nyari cemilan dapetnya gulai, sate, dan soto. Jadilah kami nyemil makanan besar.

Hidup memang keras, apa yang kamu dapatkan tak selalu sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Namun, kamu harus tetap bersyukur.
-baper-

Malam hari pertama (malem Senin) karena udah nggak laper, jadilah aku cuma berdiam diri hotel baca buku Darmagandhul. Sebenernya menjelang pukul 22.00 itu udah mulai laper, tapi pas liat situasi di luar udah sepi jadi males juga mau keluar. Warung-warung udah pada tutup.

Nah, malam hari kedua diajakin makan-makan sama peserta pelatihan yang lain. Akhirnya Senin malem keluar ke tempat makan steak apalah itu. Ceritanya sih biar jadi sok akrab gitu sesama peserta pelatihan dan penyelenggaranya. Makan steak sih setengah jam selesai, tapi ngobrolnya hampir sejam. Baru balik hotel pukul 9 malem. Udah kalau udah jam segitu males mau nulis-nulis bikin posting blog.

Malam hari ketiga lagi, diajakin makan keluar. Kali ini ke Sop Konro Marannu, di Bandung lokasinya ada di jalan Riau (Jl. R. E. Martadinata No.169). Jenis makanannya yang spesial sih olahan iga. Yah, worth lah untuk pengorbanan keluar malem-malem agak jauh dari hotel dapetnya makanan enak. Boleh lho besok-besok kalau ada yang ngajakin ke Bandung ngajak makannya kesini. Hahaha… (NGAREP DOT COM)

Malam hari keempat, kali ini nggak makan keluar bareng-bareng. Aku cuma makan di warung semacam tempat ngopi-ngopi seberang hotel (makan malam di hotel mahal cuy). Jadi, kali ini nggak ada ceritanya kecuali pas bayar nggak bisa pake debit sementara aku cuma bawa cash keras 20 ribu.

Nah malam hari kelima, keluar lagi makan malam bareng. Kali ini tempatnya lumayan jauh di Dago atas, tepatnya di Congo Cafe. Makan besar yang spesial di Congo Cafe yaitu sop buntut. Pilihannya ada yang original (beneran sop), ada yang digoreng kemudian disajika sama sop, ada yang dibakar dulu dan disajikan sama sop. Lumayan lama lah makan dan nongkring di situ, baru jam setengah sepuluh turun. Pun itu nggak langsung balik hotel, tapi mampir dulu cari durian. Depot durian yang masih buka (lagi-lagi) ada di jalan Riau. Bahkan, posisinya samping tempat makan hari ketiga kemaren. Baru pulang sampai hotel menjelang jam 11.00, itu malem lho ya.

Hari Jumat sedianya mau pulang naik kereta. Jadwal kereta yang masih tersisa tinggal pukul 19.xx (menjelang pukul 8) sementara acara selesai pukul 16.00. Akhirnya daripada bengong kelamaan nunggu kereta diputuskan balik Jakarta naik minibus (CitiTrans) yang berangkatnya pukul 16.45.

Lalulintas di Bandung cukup teratur dan para pengendara tertib (kalau pas dijaga pak polisi).
-pengalaman-

Darmagandhul, Kebenaran yang Meragukan

Ada yang pernah denger? Aku boleh saja skeptis menggeneralisir pemuda masakini yang seumuran denganku kurang mengenal Darmagandhul, atau malah baru dengar pertama kali. Kecuali beberapa yang menikmati karya sastra Nusantara, terutama sastra Jawa.

Kenapa aku tertarik dengan karya sastra Jawa? Kenapa Darmagandhul?

Jauh sebelum aku pindah ke Jogjakarta (dan sekarang di Jakarta), semasa aku sekolah SMP aku mulai iseng mengobrak-abrik rak buku ayahku di rumah. Yah, kebanyakan memang buku-buku keagamaan dan buku-buku gerakan reformasi semacam tulisan-tulisan Gus Dur dan Amien Rais. Diantara tatanan buku di rak, ada buku berjudul Majapahit (lupa karya siapa). Waktu itu aku sama sekali tidak tertarik untuk membacanya.

Setelah masuk SMA, justru aku mulai melirik buku Majapahit. Tadinya kupikir buku itu berisi cerita-cerita tentang kejayaan Majapahit atau hasil penelitian sejarah. Ternyata isinya kumpulan prosa sastrawan pada masa Majapahit. Kemudian ketertarikanku terhenti begitu saja, lha piye. Tulisannya dalam basa Jawa kuno atau basa Kawi.

Sementara itu sebenernya aku juga penasaran bagaimana prosesnya ayahku bisa “khilaf” sampai terselip buku Majapahit diantara buku-buku keagamaan. Usut diusut, ternyata buku itu sebenernya punya mbah kakung. Ah pantes saja, mengingat memang di rumah mbah kakung banyak sekali buku-buku serupa. Salah satunya kitab Betaljemur Ada Makna (aku lupa tulisannya bagaimana). Bagi yang pernah mendengarnya pasti akan disangkut-pautkan dengan nomor togel, judi toto gelap, tafsir mimpi togel, atau nomer keberuntungan. Nyatanya, bukut Betaljemur Ada Makna menjabarkan mengenai larangan-larangan, peruntungan-peruntungan, dan adat-adat kebiasaan yang merupakan hasil penelitian (tentu saja penelitian pada masanya). Sederhananya dari ngelmu titen (niteni, mengamati kebiasaan) yang dalam bahasa lebih modern semacam metode survey statistik.

Kembali lagi ke pertanyaan, kenapa Darmagandhul?

Kemaren aku malem mingguan visit ke Gramedia Pejaten Village untuk cari-cari buku bacaan. Pasalnya, enam hari kedepan (mulai hari Minggu sampai Jumat) aku akan berada di Bandung untuk dinas urusan kantor. Nah, karenanya aku merasa perlu membawa bekal untuk mengisi sela-sela waktu. Pilihanku jatuh ke Darmagandhul karena kupkir dari judulnya saja DARMA = kebenaran, GANDHUL = menggantung.

Kebenaran yang tidak tuntas, Kebenaran yang meragukan.

Ya, hanya karena itu saja, sesederhana itu.

Isinya? Aku belum baca Bung.