M7.2 Earthquake Strike Papua New Guinea

Just at 04:04:14 AM local time (GMT+10) on Monday, 3rd April 2023, the earthquake struck southwest of Wewak, Papua New Guinea, at depth of 93 km. Indonesian Meteorological Agency Region V (BMKG Wilayah V) media said this M7.2 earthquake felt in Nabire and Merauke with scale II-III Modified Mercalli Intensity (MMI) and Jayapura City, Keerom, Jayapura Regency, and Wamena with scale III MMI.

According to a spokesman for the Natural Disaster Centre in Papua New Guinea, two fatalities were reported in Angoram district and one in Wewak. Numerous homes had collapsed and people need medical aid. All six districts of East Sepik were affected by this land tremble. Landslides are observable along Sepik riverbanks and they are quite terrifying. Colles Pinga, a resident of Korogu reported they are currently experiencing aftershocks.

Papua New Guinea’s National Disaster Centre said it was conducting assessments of provinces to determine the severity of the damage and the number of casualities.

Awal Tahun, Masyarakat Jayapura Dirundung Gempa

Pagi hari 2 Januari 2023 pukul 03.24 WIT masyarakat Jayapura dikagetkan dengan guncangan gempa bumi berkekuatan M4,9 (update M5,4).

Pagi hari 2 Januari 2023 pukul 03.24 WIT masyarakat Jayapura dikagetkan dengan guncangan gempa bumi berkekuatan M4,9 (update M5,4).

Pascagempa pertama 2 Januari 2023 itu, lagi-lagi masyarakat merasakan beberap kali guncangan gempa pada hari yang sama dengan berbagai variasi kekuatan. Masyarakat dibuat khawatir dengan kemungkinan adanya gempa lanjutan yang kekuatannya lebih besar dan kemungkinan adanya tsunami akibat gempa. Pada malam hari tanggal 2 Januari 2023, masyarakat dari perkampungan di sekitar pantai Jayapura memilih mengungsi dan berdiam sementara di tempat-tempat yang lebih tinggi. Hal ini diakibatkan beredarnya isu bahwa akan terjadi gempa yang lebih besar dan akan terjadi tsunami.

Untuk menenangkan masyarakat sekaligus menangkal kabar bohong (hoax), Yustus Rumakiek selaku Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah V mengeluarkan press release tentang tidak ada potensi tsunami akibat gempa-gempa yang telah terjadi di Jayapura ini. Pernyataan ini dudukung data-data hasil pengamatan pasang-surut air laut dari Stasiun Meteorologi Maritim Jayapura yang menunjukkan pasang-surut air laut cenderung normal tanpa ada perubahan signifikan serta tidak terpenuhinya syarat-syarat terjadinya tsunami yang diakibatkan gempa bumi.

Hasil pengamatan makroseismik yang dilakukan oleh Balai Besar MKG Wilayah V dan Stasiun Geofisika Jayapura menunjukkan adanya kerusakan pada beberapa bangunan di wilayah Kota Jayapura. Herlambang Huda, Kepala Stasiun Geofisika Jayapura menyatakan kerusakan-kerusakan akibat gempa ini umumnya bukan pada struktur utama bangunan. Beberapa kerusakan yang terjadi diantaranya tembok retak, plafon runtuh sebagian, dan kaca pecah.

Hingga berhari-hari hari pascagempa 2 Januari 2023 di Jayapura, gempa-gempa susulan masih terus berlanjut. Menurut Danang Pamuji, Koordinator Bidang Observasi Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah V, banyaknya gempa-gempa susulan ini dapat terjadi karena batuan yang terpatahkan akibat gempa ini memiliki sifat yang rapuh. Setelah gempa pertama, batuan-batuan di sekitarnya yang sama-sama rapuh ikut terpengaruh dan berusaha untuk mencapai kestabilan barunya sehingga terjadi gempa-gempa susulan. Masyarakat diminta tetap tenang dan mengikuti kanal resmi BMKG untuk memperoleh informasi terkait gempa-gempa di sekitar Jayapura serta mengikuti arahan-arahan dari otoritas setempat.

Senada dengan Danang Pamuji, Muhammad Syawal selaku Sub-koordinator Bidang Pengumpulan dan Penyebaran Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah V mengharapkan masyarakat tetap tenang tetapi juga tetap waspada terhadap potensi gempa-gempa susulan yang mungkin terjadi. Masyarakat bisa kembali beraktifitas seperti biasa tetapi diharapkan memperhatikan kondisi bangunan tempat berada. Masyarakat diminta berhati-hati saat berada di sekitar bangunan yang telah rusak akibat gempa. BMKG senantiasa memonitor gempa-gempa yang terjadi dan menginformasikan kepada masyarakat apabila terjadi gempa bumi yang berdampak/dirasakan masyarakat melalui kanal-kanal komunikasi BMKG.

Berdasarkan analisis BMKG, hingga 6 Januari 2023 sedikitnya telah terjadi 434 gempa susulan dengan 42 gempa diantaranya dirasakan oleh masyarakat.


Update:

Hingga 15 Januari 2023 pukul 18:00 WIT, telah terjadi gempa bumi 722 kali dengan 57 gempa diantaranya berdampak/dirasakan masyarakat.

Para Pengikut Yudas Iskariot

Yudas Iskariot mendapatkan mandat untuk mengurus apa-apa yang berkaitan dengan keuangan dalam kelompok Yesus. Sayangnya Yudas adalah sosok pengkhianat. Yudas adalah tukang ngemplang, pencuri untuk memuaskan ketamakan diri sendiri.

Risalah Akhir Tahun 2022

Sepanjang tahun 2022 ini aku mengalami banyak kejadian yang kurasa akan banyak mengubah jalan hidupku di masa depan. Sejak pertengahan tahun sebelumnya (2021), di masa pandemi yang sedang heboh-hebohnya itu, pikiranku tenggelam dalam bait Panji Sastrokartono,

Sugih tanpo bondo
Digdoyo tanpo aji
Nglurug tanpo bolo
Menang tanpo ngasorake

Trimah mawi pasrah
Suwung pamrih tepi ajrih
Langgeng tan ana susah tan ana bungah
Anteng manteng sugeng jeneng

Hingga pada salah satu jeda pemikiran, aku memutuskan untuk hengkang dari ingar-bingar Jakarta dan mencoba peruntungan di ujung Timur Indonesia. Benar saja. Awal tahun 2022 aku mendapatkan kesempatan meninggalkan Jakarta, bermigrasi ke ujung Timur Indonesia setelah 8 tahun berkelana di sektor eksplorasi sumber daya dan sektor teknologi informasi.

Kisah yang lain…

Menyitir kembali apa yang pernah dikisahkan oleh nenek jauh-ku ketika aku masih anak-anak. Aku menyingkat cerita tentang Yudas Iskariot. Yudas Iskariot mendapatkan mandat untuk mengurus apa-apa yang berkaitan dengan keuangan dalam kelompok Yesus. Sayangnya Yudas adalah sosok pengkhianat. Yudas adalah tukang ngemplang, pencuri untuk memuaskan ketamakan diri sendiri.

Yudas sesungguhnya sosok yang piawai. Dalam kehidupan modern, Yudas Iskariot ibarat memiliki kompetensi yang unggul di bidang perdagangan dan keuangan, punya sertifikat keahlian dari sana-sini, dan pandai bicara. Sayang, kepiawaiannya digunakan untuk mengutip uang yang dipercayakan padanya. Kepintarannya berbicara beralih menjadi kepintaran bersilat lidah, keahliannya digunakan untuk markup anggaran, kecerdikannya digunakan untuk memanipulasi catatan arus kas sehingga terlihat WTP.

Ketamakannya sesaat terpuaskan, bisa pamer harta sana-sini.

Namun, hidupnya berakhir dengan mengenaskan. Ia menyesal setelah tahu Yesus akan dihukum mati. Pasalnya, Yudas-lah yang mengkomoditaskan gurunya untuk ditukar dengan 30 keping uang perak. Dalam penyesalannya itu, ia berusaha membagikan harta hasil ngemplang itu, tapi tak satu pun yang mau menerima “duit panas” darinya. Yudas Iskariot menyesal tanpa disertai pertobatan. Ia malah mengikuti keputusasaan dan memilih untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri, menggantungkan diri pada sebatang pohon ciplukan. Hingga kemudian setelah mati tubuhnya membengkak membusuk dan jatuh ke tanah hingga perutnya pecah dan tercecerlah seisi perutnya.

Dalam cerita di buku lain, pada akhirnya entah bagaimana keajaiban itu, Yudas-lah yang ternyata dihukum mati tanpa seorang pun menyadari bahwa yang dihukum adalah dia.

Namun, intinya masih sama. Pengkhianat, orang yang tidak amanah, dan orang yang tamak itu hidupnya berakhir tragis.

—

Oh, ya. Nenek jauh-ku itu, aku hanya tahu nama panggilannya Mbah Jun (俊 dalam tulisan China). Beliau dari lingkar saudara ayahku. Silsilahnya pun aku tidak begitu paham. Dari sekian banyak hal, yang paling aku sukai adalah kisah-kisah yang ia ceritakan sembari aku duduk disampingnya membongkar mainan baru. Cucu kesayangannya yang cantik itu sering mengolok-olokku saat aku mendengarkan kisah dari neneknya,

“Imanmu mosok mung ditukar tamiya, Dik. Sesuk melu aku wae sekolah minguan.”

Prespektif

Memandang permasalahan butuh berbagai prespektif supaya memperoleh gambaran lebih utuh. Mintalah pendapat orang lain bagaimana memandang sesuatu dari prespektifnya. Jika tidak bisa, pinjamlah kaca matanya.

Akhir pekan lalu seorang kolega favorit saya bertanya, “kenapa sih mas kok belajar ini-itu yang bukan bidang mas?” Jawaban simple yang bisa saya ajukan adalah untuk membangun jejaring dan mencoba kaca mata baru. Mungkin ini jawaban yang kurang memuaskan. Namun, sesederhana dua alasan itulah alasan saya belajar hal-hal baru di luar keahlian saya.

Sekira tahun 2009 saya membaca sebuah tulisan Alm. Om Nukman Luthfie dalam blognya, sudutpandang.com. Pemahaman yang saya tangkap dari tulisannya adalah satu benda bisa diineterpretasikan berbeda bagi setiap orang tergantung dari sudut pandang dan jarak pandang. Kebanyakan dari kita mengenalnya dengan istilah perspektif.

Ketika saya menyebutkan prespektif, maksud saya tidak hanya berbicara tentang sudut pandang dan jarak pandang. Sebenarnya masih ada faktor lain yang mempengaruhi. Jika kita analogikan seperti mata kita saat memandang sesuatu, maka di antara mata kita dengan benda yang kita lihat ada ruang yang tidaklah benar-benar kosong. Ada yang di antaranya terdapat lensa kaca mata, ada debu atau kabut yang menghalangi pandangan kita, atau mungkin justeru mata kita lah yang sudah rabun.

Tak hanya berlaku untuk benda-benda fisik, prespektif pun berlaku dengan hal-hal abstrak seperti permasalahan, masa depan, perasaan, dan masih banyak contoh hal-hal abstrak lain.

Memandang permasalahan butuh berbagai prespektif supaya memperoleh gambaran yang lebih utuh. Setelah memperoleh gambaran yang lebih utuh, kita dapat merumuskan penyelesaian masalah dengan cara-cara yang lebih tepat. Pada akhirnya kita memandang permasalahan dari berbagai prespektif ini tujuannya adalah mencari solusi terbaik untuk menyelesaikan permasalahan.

Terkadang ketika kita memandang suatu permasalahan hanya dari sedikit prespektif, alternatif penyelesaian permasalahan kita juga dangkal dan dapat memunculkan unintended consequences, konsekuensi-konsekuensi yang tidak terpikirkan dan tidak kita harapkan.

Kita tidak cukup mengandalkan diri sendiri untuk mendapatkan gambaran utuh suatu permasalahan. Kita memerlukan prespektif-prespektif lain di luar keahlian kita. Untuk itulah kita perlu menyiapkan opsi-opsi kolaborasi lintas keahlian. Di sini jejaring relasi lintas sektoral sangat terasa manfaatnya.

Namun, jika memang dalam kondisi khusus tidak memungkinkan untuk melibatkan pihak lain, entah karena alasan kerahasiaan atau memang ego diri, setidaknya dengan mempelajari hal-hal baru kita bisa mengenakan kaca mata berbeda untuk memperkirakan seperti apa prespektif lain. Meski tidak mendalam, setidaknya cukup untuk memperoleh gambaran lebih utuh dari pada gelap sama sekali.

Sebaliknya, jika memang kita diperlukan dalam kerja-kerja kolaborasi lintas sektoral setidaknya dengan kita mempelajari gambaran umum dari setiap bidang keahlian, kita dapat memahami cara berpikir partner kolaborasi. Dengan begitu lebih mudah bagi kita untuk connect dalam berkomunikasi.

Ketika saya mempelajari hal-hal baru di luar bidang saya, saya berharap orang lain tidak berekspektasi bahwa saya akan menguasai layaknya seorang ahli yang memang bidang itulah yang mereka pelajari sejak awal dan mereka lakukan dalam keseharian.

Ya, saya memang selalu belajar dengan serius. Namun, manusia yang memiliki “bakat” sejak lahir dan diasah terus menerus tentu saja dalam memandang sesuatu dari prespektifnya lebih mendalam pemahamannya dibandingkan saya yang hanya tau cangkang saja.

Mintalah pendapat orang lain bagaimana memandang sesuatu dari prespektifnya. Jika tidak bisa, pinjamlah kaca matanya.

Moral Disengagement Theory

Kekejaman dan menyakiti orang lain akan memberi dampak rasa tak nyaman pada pelakunya, rasa bersalah, dan rasa berdosa. Ada kekacauan kognitif antara keharusan melakukan kekerasan dengan rasa benar salah yang diyakini.

Kematian Abu Ibrahim pimpinan ISIS mengingatkan betapa kejamnya perilaku ISIS dan para teroris lain. Bayangkan, seorang manusia menggorol leher manusia lain. Atau, orang tua mengajari anak-anaknya untuk mencederai orang lain? Orang tua membawa serta anaknya dengan bom yang digendong dan meledakkan diri di pintu masuk gereja. Manusia seperti apa yang bisa melakukan kekejaman seperti itu? Kita membayangkannya saja ngeri. Adakah mereka kena hipnotis? Itu pertanyaan banyak orang.

Kekejaman dan menyakiti orang lain akan memberi dampak rasa tak nyaman pada pelakunya, rasa bersalah, dan rasa berdosa. Ada kekacauan kognitif antara keharusan melakukan kekerasan dengan rasa benar salah yang diyakini. Bandura menjelaskan perilaku mereka yang sadis itu lewat Moral Disengagement Theory (MDT). Detailnya sangat kompleks. Untuk keperluan di Facebook saya tulis empat simpulan proses disengagement itu.

Pertama adalah rekonstruksi kebenaran. Mereka yang melakukan kekerasan selalu berkata bahwa yang mereka lakukan adalah pembalasan dari kekejaman lawan. Apakah yang mereka bunuh itu lawannya? Menurut mereka adalah bagian dari lawan, pendukung lawan, dst. Dalam konteks teroris ada konsep ‘aduw al ba‘id, musuh yang jauh. Siapa saja yang dianggap bagian dari musuh layak diperangi. Mereka menganggap semua kepentingan Amerika adalah musuh (makanya KFC didemo atau bahkan diserang), gereja juga dianggap sebagai agen dari operasi pengkafiran, hanya karena mayoritas orang Amerika beragama Kristen. Konstruksi kebenaran ini dibangun berdasar teori konspirasi dengan bumbu-bumbu hoax yang kadangkala tidak masuk akal.

Kedua adalah melalui proses de-value target. Mereka menganggap yang mereka serang itu bukan manusia, atau manusia dengan kedudukan yang lebih rendah. Praktik ini juga berlaku di semua pelaku kekerasan. Tentara Amerika di Vietnam menyebut lawannya “tango”, “victor charlie”, dll. Kapal lawan oleh tentara Amerika disebut “it” sementara kapalnya adalah “she/her”. Teroris menyebut target mereka kafir, kuffar, dll.

Ketiga adalah eufimisasi serangan. Eufimisme adalah majas yang mengubah suatu kejadian dengan kata/kalimat yang lebih enak didengar. Pembunuhan disebut likuidasi. Pemboman disebut dengan nama amaliah, dan seterusnya. Pelaku bisa merasa lebih enteng bebannya kalau menyebut sedang merancang amaliah daripada merancang pemboman dengan target membunuh ratusan orang.

Keempat adalah pembagian beban tanggung jawab/ rasa bersalah. Perancang serangan teror adalah bukan pengantin yang meledakkan dirinya. Pembuat bom bukan yang mendanai dan memerintahkan serangan itu dilakukan di mana. Dengan distribusi seperti ini, semua orang hanya merasa menjadi baut dari sebuah mesin. Bila semua orang yang harus bertanggung jawab, maka hakikatnya tak ada yang bertanggung jawab. Cara ini bisa memperingan rasa bersalah pelaku.

Anda dan saya yang membaca tulisan saya ini ngeri. Tapi ini yang terjadi di setiap aksi teror. Saya sungguh berharap tak ada lagi aksi teror di tanah air dan di mana pun. Saya tulis sedikit apa yang saya tahu agar kita makin paham dan bisa bersama mencari langkah pencegahannya. Sekalian kita ingatkan bahwa,

مَن قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعًا

Barang siapa membunuh satu nyawa yang tidak membunuh orang lain atau merusak bumi, maka sama saja dengan membunuh seluruh manusia (QS Al Maidah 32)


Tulisan pertama kali dipublikasikan di beranda Facebook Taufiq Alimi pada tanggal 8 Februari 2022.