Mengenang Wisma Blumbang

Wisma Blumbang dulu adalah rumah tinggal teman-teman yang terdiri dari berbagai daerah dan berbagai latar belakang. Saya dulu betah tinggal di tempat ini karena rasa kebersamaan yang terjalin diantara sesama penghuni rumah tinggal di Wisma Blumbang. Wisma Blumbang bukanlah kompleks perumahan, atau beberapa rumah tinggal dalam satu lingkungan. Wisma Blumbang hanyalah beberapa deret kamar kost yang disewakan oleh Pakdhe, Ya, teman-teman kost dari dulu yang pertama tinggal di Wisma Blumbang memanggilnya dengan nama Pakdhe. Orang tua yang sudi menyewakan kamar-kamar kost miliknya dengan harga yang sangat murah dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya, bahkan dari cerita penghuni kost pertama hingga beberapa turunannya, Pakdhe tidak pernah meminta anak-anak kost untuk mbayar sewa. Tetapi atas inisiatif penghuni kost juga pada akhirnya sepakat untuk membayar sewa, sekedar untuk perawatan kompleks kost.

Sayang, orang sebaik Pakdhe yang dengan ikhlas mau mengasuh dan ngopeni kami meninggal pada tahun 2005 lalu. Selanjutnya pengelolaan rumah kost diserahkan kepada anaknya yang sebenarnya tinggal agak jauh dari rumah kost. Satu persatu penghuni kost datang dan pergi silih berganti. Ada yang lulus kemudian keluar karena tempat kerja yang tak di Jogja. Satu hal yang tak titeni di Wisma Blumbang adalah sekali sudah masuk menjadi penghuni kost, tidak ada yang kemudian keluar kost untuk pindah ke rumah kost lain.

Dulu, setiap kali ada yang wisuda atau diterima kerja, anak-anak kost selalu mengadakan semacam pesta kecil untuk merayakan keberhasilan teman-teman. Meski pada saat pesta terdapat set alat band komplit beserta gitar listrik dan panggung sederhana, tapi ini tak mengeluarkan banyak biaya karena sound system yang dipakai adalah sound system milik warga kampung di sekitar Wisma Blumbang. Kedekatan penghuni kost dengan warga kampung membuat kami sangat nyaman untuk sekedar sambat. Teman-teman kost bahkan sering ikut ronda bersama warga sekitar, sekedar untuk ikut mengamankan lingkungan. Kadang juga teman-teman kost gojeg di kamling sambil main remi di kampung. Kerja bakti, tentu saja ketika kami tidak ada acara lain kami ikut ngguyub sekedar ngrusuhi nyekel pacul atau ember.

Lik Amat, orang yang tinggal di seberang jalan depan Wisma Blumbang sudah sangat hafal dan akrab dengan penghuni kost, kadang ketika teman-teman kost datang ke warung dan kebetulan uangnya ketinggalan Lik Amat (kami memanggilnya Lik Buardiman) hanya mengatakan “wis gowo wae disik, mbayare sesuk-sesuk yo kena” (sudah bawa saja dulu, bayarnya besok-besok juga bisa). Pernah suatu ketika teman-teman kost karena tidak ada yang bisa memanjat pohon mangga kemudian minta tolong Lik Amat untuk ngunduh mangga yang bergelantungan di halaman Wisma Blumbang.

Kang Mat yang buka angkringan di jalan depan kost-kostan adalah partner hebat bagi teman-teman kost yang malam-malam ngidap insomnia. Ya, sekedar untuk nyruput wedang jahe dan ngemil tempe goreng pun bisa duduk barang dua-tiga jam di angkringan. Tiap slametan pesta-pesta ada yang wisuda atau diterima kerja, Kang Mat yang dapat order membawa makanan khas angkringan ke tengah ruang pesta. Warga sekitar pun boleh sak penake ambil makanan dan ikut nimbrung nonton “konser“.

Ah, itu sudah beberapa tahun yang lalu. Tahun 2010 lalu teman-teman Blumbang mendapat ultimatum untuk segera pindah karena tanah akan dijual. Ya beberapa dari teman-teman kost dikembalikan uang sewanya. Rupanya sudah ada pembeli komplit dengan developernya. Wisma Blumbang sekarang telah disulap oleh sang developer menjadi perumahan kecil-kecil nan menjulang tinggi, kontras sekali dengan rumah-rumah disekelilingnya. Wisma Blumbang telah diubah menjadi kompleks Grand Pastika Pogung oleh Arya Guna.

Penulis: Muh.Ahsan

Geoscience application specialist, technical evangelist, music lover, movie buff, and active blogger.

Tinggalkan Tanggapan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.