Lima Malam di Bandung

Seperti yang kutulis sebelumnya, minggu ini aku benar-benar jarang menulis. Pasalnya, semenjak hari Senin sampai Jumat kemarin aku mengikuti acara pelatihan dari pagi sampai sore dari pukul 08.00 sampai 17.00. Nah, tentu saja ini pelatihan yang sangat melelahkan, apalagi materi-materi pelatihan beberapa diantaranya merupakan hal baru bagiku. Untungnya, Pak Diego Vasquez yang ngajari itu pinter banget dan ngerti cara ngajarinya.

Eh, tapi kali ini aku gak bakalan bahas materi training kok. Santai…

Jadi ceritanya aku sampai Bandung hari Minggu siang menjelang sore. Ya, kira-kira jam tanggung untuk makan. Kalau makan mesti malemnya laper lagi, kalau nunggu agak malem ya sebenernya udah keburu laper. Ada yang sering mengalami masalah serupa?

Btw, aku ke Bandung berangkat tiga orang y.i aku, mbak Tika (temen kantor), dan satu sopir. Nah sore itu ketiganya emang dalam kondisi nanggung antara mau makan atau menunda lapar. Jadilah sesampai di Bandung sebelum masuk hotel kami cari cemilan. Kebetulan di seberang jalan tak jauh dari hotel ada satu tempat makan yang katanya lumayan enak. Orang Malang tak dapat ditolak, mujur mungkin dapat diraih. Kami tak mendapati apa yang kami inginkan. Mau nyari cemilan dapetnya gulai, sate, dan soto. Jadilah kami nyemil makanan besar.

Hidup memang keras, apa yang kamu dapatkan tak selalu sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Namun, kamu harus tetap bersyukur.
-baper-

Malam hari pertama (malem Senin) karena udah nggak laper, jadilah aku cuma berdiam diri hotel baca buku Darmagandhul. Sebenernya menjelang pukul 22.00 itu udah mulai laper, tapi pas liat situasi di luar udah sepi jadi males juga mau keluar. Warung-warung udah pada tutup.

Nah, malam hari kedua diajakin makan-makan sama peserta pelatihan yang lain. Akhirnya Senin malem keluar ke tempat makan steak apalah itu. Ceritanya sih biar jadi sok akrab gitu sesama peserta pelatihan dan penyelenggaranya. Makan steak sih setengah jam selesai, tapi ngobrolnya hampir sejam. Baru balik hotel pukul 9 malem. Udah kalau udah jam segitu males mau nulis-nulis bikin posting blog.

Malam hari ketiga lagi, diajakin makan keluar. Kali ini ke Sop Konro Marannu, di Bandung lokasinya ada di jalan Riau (Jl. R. E. Martadinata No.169). Jenis makanannya yang spesial sih olahan iga. Yah, worth lah untuk pengorbanan keluar malem-malem agak jauh dari hotel dapetnya makanan enak. Boleh lho besok-besok kalau ada yang ngajakin ke Bandung ngajak makannya kesini. Hahaha… (NGAREP DOT COM)

Malam hari keempat, kali ini nggak makan keluar bareng-bareng. Aku cuma makan di warung semacam tempat ngopi-ngopi seberang hotel (makan malam di hotel mahal cuy). Jadi, kali ini nggak ada ceritanya kecuali pas bayar nggak bisa pake debit sementara aku cuma bawa cash keras 20 ribu.

Nah malam hari kelima, keluar lagi makan malam bareng. Kali ini tempatnya lumayan jauh di Dago atas, tepatnya di Congo Cafe. Makan besar yang spesial di Congo Cafe yaitu sop buntut. Pilihannya ada yang original (beneran sop), ada yang digoreng kemudian disajika sama sop, ada yang dibakar dulu dan disajikan sama sop. Lumayan lama lah makan dan nongkring di situ, baru jam setengah sepuluh turun. Pun itu nggak langsung balik hotel, tapi mampir dulu cari durian. Depot durian yang masih buka (lagi-lagi) ada di jalan Riau. Bahkan, posisinya samping tempat makan hari ketiga kemaren. Baru pulang sampai hotel menjelang jam 11.00, itu malem lho ya.

Hari Jumat sedianya mau pulang naik kereta. Jadwal kereta yang masih tersisa tinggal pukul 19.xx (menjelang pukul 8) sementara acara selesai pukul 16.00. Akhirnya daripada bengong kelamaan nunggu kereta diputuskan balik Jakarta naik minibus (CitiTrans) yang berangkatnya pukul 16.45.

Lalulintas di Bandung cukup teratur dan para pengendara tertib (kalau pas dijaga pak polisi).
-pengalaman-

Penulis: Muh.Ahsan

Geoscience application specialist, technical evangelist, music lover, movie buff, and active blogger.

Tinggalkan Tanggapan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.