Kebutuhan Memori HP

Sebenarnya, seberapa besar memori HP yang saya perlukan untuk keperluan yang ‘biasa-biasa’ saja?

Sebenarnya, seberapa besar memori HP yang saya perlukan untuk keperluan yang ‘biasa-biasa’ saja?

Pertanyaan ini bagi saya jawabannya sudah ada, tetapi perlu di-‘break down’ ke kategori dan sub-kategori supaya lebih jelas untuk apa saja memori yang sudah terpakai. Sebagai informasi, saya memakai handphone Oppo F5 dengan RAM 4GB dan memori internal 32GB. Dari 32GB ini hampir 10GB terpakai hanya untuk sistem operasi Android sehingga tersisa 22GB untuk keperluan yang lebih fleksibel. Untuk apa saja dan bagaimana saya menggunakan penyimpanan 22GB?

Pertama, saya menggunakan aplikasi WhatsApp (60MB), Apple Music (119MB), Telegram (43MB), OneDrive (95MB), OpenVPN (26MB), Twitter (69MB), Instagram (66MB), dan Facebook (54MB). Dua aplikasi yang terakhir saya sebut lumayan jarang saya buka. Selain aplikasi yang sering saya buka masih ada aplikasi yang bagi saya mandatory harus ada. Ada aplikasi Adobe Acrobat (139MB), Word (83MB), Excel (93MB), PowerPoint (103MB), Norton Mobile (45MB), QuickEdit (12MB), dan ZArchiver (10MB). Ukuran aplikasi yang saya sebutkan hanya aplikasi saja tanpa data atau cache untuk aplikasi tersebut. Kira-kira total aplikasi dan cache menjadi 3,6GB.

Selain untuk aplikasi, ada keperluan lain yaitu penyimpanan gambar dan video. Bisa berupa hasil foto, rekaman, download, edit, atau capture. Untuk urusan gambar ini saya biasanya melakukan backup rutin ke cloud (OneDrive) kemudian yang ada di HP saya hapus. Dalam waktu satu bulan saya biasanya ‘memproduksi’ gambar dan video sekitar 400MB sebelum saya backup. Keperluan lainnya terkait multimedia adalah musik dari Apple Music yang saya download (alih-alih harus streaming terus). Kira-kira saya hanya memerlukan 300MB untuk semua playlist yang saya buat. Total untuk multimedia 700MB.

Urusan dokumen saya terkadang membuat folder temporary di internal HP sebelum saya pindahkan ke USB flash disk OTG atau saya upload ke OneDrive. Untuk keperluan ini saya hanya memerlukan storage tak lebih dari 200MB. Ada lagi audio-call-recording yang saya backup rutin setiap akhir bulan rata-rata dalam satu bulan tak lebih dari 50MB. Meski tidak signifikan tapi rasanya perlu saya tambahkan juga. Jadi untuk keperluan dokumen saya hanya perlu 250MB.

Total untuk keseluruhan aplikasi, multimedia, dan dokumen saya hanya perlu sekitar 4,6GB. Jika ditambahkan dengan sistem operasi Android yang kira-kira 10GB maka total minimum memori yang saya perlukan sebesar 14,6GB. Rasanya bagi saya HP dengan memori 16GB sudah cukup. Terbukti dari 32GB memori HP Oppo F5 yang saya gunakan masih tersisa17GB

Layanan Cloud Storage Terbaik

Kalau kamu tetap masih merasa menyimpan data secara tradisional di dalam flashdisk saat bepergian tetaplah paling aman dan praktis, tak ada salahnya juga tetap mencadangkan data-data dalam flashdisk ke cloud storage.

Seberapa sering kamu mengungkapkan alasan semacam ini?
‘Nanti, ya. Kalau sudah sampai rumah/kantor. Datanya ada di komputer.’
‘Ada di flashdisk. Flashdisknya ketinggalan/hilang.’
‘Hilang nih datanya gara-gara komputernya rusak.’
‘Datanya ada di laptop, baterainya habis.’

Kalau kamu sering menggunakan salah satu atau malah semua alasan di atas, maka sudah waktunya bagi kamu mempertimbangkan untuk menggunakan cloud storage. Menyimpan data yang kamu miliki di server yang dapat diakses dari mana saja, kapan saja, menggunakan perangkat apa saja. Syaratnya, terhubung dengan internet. Kalau kamu tetap masih merasa menyimpan data secara tradisional di dalam flashdisk saat bepergian tetaplah paling aman dan praktis, tak ada salahnya juga tetap mencadangkan data-data dalam flashdisk ke cloud storage.

Banyak penyedia layanan cloud storage untuk ‘menampung’ file digital kamu. Dalam memilih, paling utama yang sebaiknya kamu perhatikan adalah soal keamanan dan kerahasiaan data. Tak perlu saya jelaskan kenapa keamanan dan kerahasiaan data penting. Kamu sudah menyadarinya sejak dalam pikiran. Keamanan dan kerahasiaan data adalah fitur mutlak yang harus ada, tidak bisa ditawar. Beberapa fitur yang sebaiknya ada dan lumayan membantu diantaranya:

  • Cross platform: ada di sebanyak mungkin sistem operasi komputer maupun smartphone.
  • Kolaborasi: Edit file di dalam cloud storage secara bersamaan sebagai team.
  • File Sharing: Berbagi file dengan orang lain melalui direct link atau application access.

Dari banyak penyedia layanan, berikut yang terbaik dan layak dijadikan pilihan utama kalau kamu memang mau menggunakan cloud storage:


OneDrive

Aplikasi OneDrive terdapat di hampir semua sistem operasi komputer (Windows, Mac) dan smartphone (Windows, Android, iOS). Metode alokasi storage OneDrive juga pintar. Kamu bisa menyimpan dan mensinkronkan konten antara komputer dengan cloud, tetapi kalau disk space komputer kamu tersisa sedikit kamu bisa memilih untuk hanya menyimpannya di cloud. Keunggulan lain dari OneDrive adalah integrasinya dengan Windows 10. Kamu tidak perlu install aplikasi tambahan di Windows 10 kamu untuk mendapatkannya dan mengakses file cloud kamu melalui windows explorer layaknya local disk. Versi gratis dari layanan ini memberikan ruang sebesar 5GB bagi penggunanya.

cloud-onedrive

  • Terintegrasi dengan windows explorer tanpa install.
  • Penggunaan dan manajemen file sangat mudah.
  • Versi gratis hanya menyediakan storage 5GB.

GoogleDrive

Layanan Drive yang disediakan Google merupakan pilihan bagus bagi pengguna smartphone Android karena aplikasi Drive sudah terinstall secara default di smartphone Android. Drive menyediakan ruang 15GB bagi pengguna gratis. Kamu juga bisa menyimpanan unlimited khusus untuk foto yang kamu upload dengan pilihan ‘high quality’, tentu saja artinya foto yang kamu upload dikompres dan kualitasnya kurang. Meski menyediakan ruang besar, tetapi kekurangan dari GoogleDrive ada pada user interface versi web maupun aplikasi smartphone yang terlalu membingungkan pengguna.

cloud-googledrive

  • Terinstall di hampir semua smartphone Android.
  • Versi gratis menyediakan storage yang lumayan besar (15GB).
  • User interface web dan aplikasi membingungkan.

Mega

Berbeda dengan OneDrive dan GoogleDrive, Mega merupakan penyedia layanan cloud storage independen. Mega tidak terintegrasi dengan sistem operasi apapun. Artinya pengguna harus install aplikasi client sync supaya bisa saling sinkron antara perangkat dengan cloud yang disediakan. Mega menjanjikan end-to-end encryption bagi penggunanya sehingga usaha menjaga kerahasiaan konten data sudah dimulai sejak sebelum data diupload ke cloud. Source code dari aplikasi Mega juga open source, pengguna dapat memodifikasi cara berkomunikasi dan upload data antara client dengan cloud. Kehebatan andalannya, Mega menyediakan 50GB bagi pengguna gratisnya.

cloud-mega

  • Pengguna gratis mendapatkan 50GB storage.
  • Aplikasi sinkronisasi open source, customable.
  • Tidak ada fitur kolaborasi edit file secara bersamaan dalam team.

DropBox

DropBox merupakan pemain lama dalam penyediaan cloud storage. Sebagai veteran, fitur yang disediakan pun sudah sangat berkembang dan matang. DropBox memiliki fitur kolaborasi yang juga disertai file recovery dan versioning, cocok untuk yang sedang mengerjakan draft dokumen skripsi atau semacamnya yang banyak revisi. Sayangnya, DropBox hanya menyediakan 2GB bagi pengguna gratisnya meski bisa diupgrade menjadi 16GB dengan sistem referal.

cloud-dropbox

  • File recovery dan versioning pada bussiness account (ada juga di OneDrive dan GoogleDrive).
  • Dengan referal bisa mendapatkan 16GB.
  • Gratis 2GB untuk pengguna baru tidaklah menarik.

iCloud

Ada dua alasan kenapa iCloud saya masukkan dalam daftar rekomendasi layanan cloud storage. Apple iCloud memiliki fitur full backup untuk iOS. Fitur ini sangat-sangat berguna bagi pengguna iPhone, iPad, atau iPod Touch. iCloud sangat-sangat lekat dan fully integrated dengan perangkat Apple. Alasan kedua, harganya sangat kompetitif dan lebih murah dibandingkan kompetitor. Sayangnya, meski tersedia aplikasi client sync iCloud untuk Windows tetapi tidak ada untuk Android. Juga, hanya tersedia 5GB bagi pengguna gratis.

cloud-icloud

  • Terintegrasi dengan finder di MacOS dan integrasi auto backup di iOS.
  • Harga sangat kompetitif dibandingkan kompetitor.
  • Tidak ada aplikasi client untuk Android.

Tambahan: Box

Saya tidak memasukkan layanan ini ke ke daftar lima layanan cloud storage terbaik, tetapi secara khusus saya sebutkan karena layanan ini bisa diintegrasikan ke dalam layanan lain semisal Google Docs dan Office 365. Maksudnya tanpa menggunakan client sync dari Box pun aplikasi Google Docs maupun Office 365 bisa mengakses file yang tersimpan di Box, tentu saja setelah login dengan akun Box. Sayangnya, versi gratis dari Box membatasi ukuran setiap file yang diunggah maksimal sebesar 250MB. Total storage yang disediakan sebesar 10GB.


Saya memang masih membawa dua flashdisk dengan isi yang sama setiap kali bepergian. Namun, saya juga mencadangkan data ke cloud storage dari dua penyedia layanan berbeda yaitu Microsoft OneDrive (1-5TB) dan iCloud (200GB). Adapun flashdisk yang saya gunakan sehari-hari yaitu Sandisk OTG yang masing-masing berukuran 16GB. Untuk data yang sangat rahasia saya simpan di flash disk yang disertai password key security, Corsair Flash Padlock 3 16GB.

cloud-paddock

Minimalkan beralasan dengan menggunakan kejadian yang semestinya dapat dicegah dengan cara sederhana.

Paperless Student

Paperless student memerlukan perangkat-perangkat pendukung supaya dapat disebut sebagai paperless student. Apa saja perangkat yang diperlukan?

Saya sedang melakukan proyek kecil untuk diri saya sendiri, menjadi paperless student. Proyek ini sudah berjalan hampir satu semester semenjak kehadiran iPad Pro 10.5 beserta Apple Pencil yang saya gunakan. Namun, kenyataannya sampai sekarang masih mustahil untuk bisa sepenuhnya menjadi paperless student. Masih ada banyak hal yang tetap memerlukan kertas. Kertas untuk ujian, tugas-tugas, kuis, pengurusan administrasi, pengajuan proposal, dan masih ada beberapa hal lain. Khusus untuk urusan catat-mencatat, saya menggunakan tablet lengkap dengan pen. Secara teknis saya sudah tidak menggunakan kertas untuk mencatat.

Apa saja perlengkapan yang dapat digunakan?

Tablet dan Stylus/Pen

Ada lumayan banyak tablet jenis atau merek yang cocok digunakan untuk membantu menjadi paperless student. Terdapat berbagai pilihan tablet dengan sistem operasi Windows, iOS, maupun Android. Pertimbangan utama dalam memilih tablet adalah budget, selanjutnya OS karena OS ini yang akan menjadi wadah berbagai aplikasi yang mendukung paperless student.

Untuk platform Android lumayan banyak pilihan meski hampir semuanya didominasi oleh Samsung. Sebut saja Galaxy Tab A8 with S-Pen (2015), Galaxy Tab A 9.7 (2015), Galaxy Tab S3, dan yang terbaru Samsung Galaxy Tab S4 yang sudah dilengkapi fitur Samsung DEX.

Apple meluncurkan iPad Pro 9.7 (2016), iPad Pro 9.7 (2017), iPad Pro 12.9 (2017), iPad Pro 10.5 (2017), iPad 6th gen (2018), iPad Pro 11 (2018), iPad Pro 12.9 (2018) yang semuanya support Apple Pencil.

Di platform Microsoft Windows terdapat banyak alternatif semisal Microsoft dengan Surface Go, Surface, dan Surface Pro. Selain Microsoft juga terdapat beberapa produsen laptop yang menghadirkan tablet maupun convertible yang support pen seperti HP Spectre X2, Lenovo Tablet 10.

Ukuran tablet dengan pen cukup bervariasi dari yang berukuran bentangan layar 8 inch hingga 13 inch. Pertimbangkan ukuran yang sesuai, maksudnya pilih ukuran yang tetap nyaman untuk kegiatan tulis-menulis (tidak terlalu kecil) tetapi tetap nyaman dibawa ke manapun. Ukuran 9 inch sampai 11 inch adalah ukuran yang pas bagi kebanyakan orang. Selain pertimbangan ukuran, daya tahan baterai juga sangat penting dijadikan pertimbangan. Perangkat native tablet memiliki daya tahan baterai lebih baik jika dibandingkan dengan convertible.

Best Tablet with Stylus: Microsoft Surface Pro, Apple iPad Pro 11, Samsung Galaxy Tab S4.
Best for Budget: Samsung Galaxy Tab A8 with S-Pen (2015), iPad 6th gen (2018), Microsoft Surface Go.

Aplikasi Note

Aplikasi ini jelas tujuannya untuk menyimpan urusan catat-mencatat. Microsoft OneNote menawarkan kemudahan untuk urusan catat-mencatat. Kelebihannya, Microsoft OneNote merupakan aplikasi cross platform. Ada di hampir semua sistem operasi tablet baik tablet Windows, Android, maupun iOS. OneNote memungkinkan penggunanya merekam dan memasukkan audio ke dalam note. Fitur ini sangat berguna saat perkuliahan. Sembari menulis di note, apa yang dibicarakan pengajar di kelas terekam dengan baik. Sayangnya fitur merekam sembari menulis ini baru hadir di versi Windows saja sementara di iOS dan Android aplikasi OneNote belum bisa melakukan kegiatan mencatat sembari merekam secara parallel. Untuk di iOS ada aplikasi Notability yang memiliki fitur merekam suara sembari mencatat secara bersamaan. Selain Notability, ada aplikasi Goodnotes yang fiturnya lebih lengkap tetapi minus audio recording. Aplikasi Android untuk note taking ada OneNote, EverNote, Squid, dan Inkredible. Dari keseluruhan, ada OneNote dan EverNote yang memiliki keunggulan cross platform. Keunggulan recording sambil mencatat hanya ada di OneNote for Windows dan Notability for iOS.

Best note taking app: OneNote (Windows), Notability (iOS), Squid (Android).
Best for Budget: OneNote for all platform.

Aplikasi Office

Aplikasi office sudah pasti diperlukan untuk membuat dan membuka berbagai dokumen, misal materi pdf, mengerjakan tugas, presentasi. Aplikasi paling umum digunakan untuk fungsi ini adalah Microsoft Office Word, PowerPoint, dan Excel. Seluruh aplikasi ini tersedia untuk platform Windows, Android, dan iOS. Alternatif lain untuk keperluan serupa ada Pages, Keynote, dan Numbers yang dibuat khusus untuk iOS atau platform Google dengan Docs, Sheets, dan Slides. Meski banyak alternatif, tetapi paling umum digunakan untuk keperluan ini adalah Microsoft Office. Untuk keperluan membuka dokumen pdf maka Adobe Acrobat adalah pilihan terbaik. Namun, apabila diperlukan untuk membuat pdf annotation atau mencoret-coret dokumen pdf maka Adobe Acrobat kurang cocok karena keterbatasan fitur di dalamnya. Untungnya aplikasi note taking yang saya sebut sebelumnya (OneNote, Notability, Evernote) memiliki fungsi-fungsi PDF annotation.

Best Office App: Microsoft Word-Excel-Powerpoint, Adobe Acrobat.
Best for Budget: Google Docs-Sheets-Slides

Display Converter (Optional)

Display converter sangat berguna saat presentasi. Kebanyakan tablet tidak disertai port display semacam HDMI maupun VGA. Untuk itulah diperlukan display converter. Sesuaikan port output dari tablet. Misal, Lightning to HDMI, Lightning to VGA, USB-C to HDMI, USB-C to VGA, Micro USB to HDMI, Micro USB to VGA. Fungsi utama dari Display Converter adalah untuk mirroring screen yang ada di tablet ke layar lain yang support semisal TV atau Projector. Beberapa TV dan Projector memiliki fungsi wireless display, tetapi akan lebih aman kalau tetap memiliki Display Converter karena tidak semua tempat/kelas memiliki TV ata Proyektor yang support wireless display. Tablet berbasis Microsoft Windows memiliki keunggulan dalam hal display ini karena layar TV atau Projector dapat dikonfigurasi sebagai secondary display, tidak hanya mirroring.

Keyboard (Optional)

Meski semua tablet sudah disertai dengan on screen keyboard, saya lebih menyukai tetap mengetik menggunakan keyboard fisik. Untuk urusan memilih keyboard, saya memilih menggunakan Microsoft bluetooth keyboard. Ukurannya cukup kecil tetapi tetap nyaman saat digunakan sebagai input saat mengetik. Pilihan bluetooth keyboard sangat banyak. Ada juga beberapa keyboard yang memang didesain untuk tablet tertentu. Smart Keyboard Apple didesain untuk iPad dengan berbagai variasi ukuran. Surface Keyboard didesain untuk Microsoft Surface.

Flashdisk USB OTG (Optional)

Fungsinya jelas, untuk pertukaran data apabila diperlukan. Misal untuk mencetak tugas-tugas atau PR yang masih memerlukan kertas. Flashdisk ini digunakan sebagai alternatif lain apabila tidak dapat mengirim atau menerima dokumen melalui email, chat, online document sharing, cloud drive sharing, atau transmisi wireless lain.

Paperless student memang belum menjadi trend karena biaya yang diperlukan memang tidak sedikit. Butuh modal minimum tablet dengan stylus. Perangkat termurahnya, Samsung Galaxy Tab A8 with S-Pen keluaran tahun 2015 pun saat tulisan ini saya publikasikan harganya masih sekitar 3,2 juta Rupiah. Perangkat ini jelas sudah menjelang end of life, end of support karena merupakan perangkat keluaran 3 tahun yang lalu. Artinya, sekali terjadi kerusakan pada perangkat tersebut akan sulit mendapatkan komponen penggantinya.

Ada beberapa benefit yang saya rasakan selama menjalani proses menjadi paperless student:

  1. Praktis. Saya tidak perlu membawa banyak buku catatan, cukup satu tas kecil untuk tempat tablet yang saya bawa dan ballpen untuk mengisi presensi saat kegiatan belajar berlangsung.
  2. Terekam. Saat saya lupa memahami apa yang saya catat, saya tinggal membuka kembali audio recording yang berkaitan dengan bagian yang saya catat.
  3. Bersih. Catatan saya menjadi tidak banyak coret-coretan akibat salah gambar atau salah tulis karena saat ada kesalahan bisa langsung diedit/hapus.
  4. Terorganisir. Semua catatan saya menjadi lebih terorganisir dan mudah mencarinya bahkan sampai ke level kata kunci pun mudah mencarinya.
  5. Duplikasi. Lebih mudah menduplikasi dan kirim ke teman yang memerlukan, misal saat menjelang ujian tinggal konversi ke pdf kirim via whatsapp ke teman yang memerlukan untuk belajar.

Dari paparan yang saya jelaskan di atas, ada beberapa opsi pilihan device terbaik untuk memulai menjadi paperless student:

  • Low Budget: Samsung Galaxy Tab A8 with S-Pen (2015) disertai aplikasi OneNote dan Google Docs.
  • Normal Budget: iPad 6th gen (2018) disertai aplikasi Notability dan Microsoft Office.
  • High Budget: Microsoft Surface Pro 6 disertai aplikasi OneNote dan Microsoft Office.
  • Android: Samsung Galaxy Tab S3 disertai aplikasi Squid dan Microsoft Office.
  • Apple: Apple iPad 6th gen (2018) disertai aplikasi Notability dan Microsoft Office.
  • Windows: Microsoft Surface Go disertai aplikasi OneNote dan Microsoft Office.

Perangkat utama yang saya gunakan adalah Apple iPad Pro 10.5 (WiFi + Cellular) dengan Apple Pencil. Perangkat tambahannya berupa Microsoft Bluetooth Keyboard, Lightning to HDMI+VGA converter. Aplikasi yang sering saya gunakan dalam kegiatan belajar yaitu Notability untuk mencatat, merekam, pdf annotation, dan mengorganisir catatan. Microsoft Word-Excel-Powerpoint untuk keperluan membuat dokumen atau mengedit dokumen.

Keyboard Favorit Untuk Apple iPad

Kalau kamu punya tablet Apple iPad dan ingin sebagian besar keperluan dasar atas sebuah komputer bisa terpenuhi dengan tablet iPad yang kamu miliki, maka portable keyboard adalah apa yang mutlak harus kamu miliki.

Wireless keyboard terbaik untuk Apple iPad dibuat oleh…

Microsoft!

Kalau kamu punya tablet Apple iPad dan ingin sebagian besar keperluan dasar atas sebuah komputer bisa terpenuhi dengan tablet iPad yang kamu miliki, maka portable keyboard adalah apa yang mutlak harus kamu miliki. Salah satu hal terbaik dari iPad yang dibuat oleh Apple adalah ukurannya yang tipis. Maka keyboard yang besar (dan tebal) bukanlah pasangan yang cocok untuk iPad.

Saya punya keyboard nirkabel jauh hari sebelum saya pakai Apple iPad Pro 10.5″. Lebih tepatnya tahun awal tahun 2015 bersamaan dengan tablet Samsung Galaxy Tab S 8.4″, tablet pertama yang saya miliki. Saat itu saya membeli Wireless (bluetooth) keyboard Microsoft Universal Keyboard. Pertimbangan saya waktu itu hanya karena kompatibiltasnya dengan perangkat Android, Windows, dan iOS meskipun saat itu saya tidak terpikirkan akan kehadiran perangkat iOS yang saat ini saya gunakan. Penggunaan keyboard dengan tablet Samsung Galaxy Tab S 8.4″ pun untuk tujuan drafting dokumen saat saya dalam mobilitas tinggi, terutama saat dalam perjalanan dan tidak di dalam kantor.

Saya lebih sering menggunakan Microsoft Universal Keyboard disandingkan dengan iPad Pro 10.5″ karena alasan yang baik. Terlebih lagi tablet Samsung Galaxy Tab S 8.4″ yang saya miliki sudah berpindah tangan menjadi perangkat hiburan untuk anak, nonton YouTube.

Kenapa Microsoft Universal Keyboard tetap menjadi pilihan keyboard favorit saya dibandingkan Apple Smart Keyboard?

  1. Kompatibilitas: Perangkat keyboard ini kompatibel dengan hampir semua perangkat iOS, Android, dan Microsoft.
  2. Wireless: Dengan konektivitas bluetooth tidak harus selalu tertempel dengan perangkat yang saya gunakan.
  3. Tipis dan ringan: Ukurannya yang tipis dan ringan cocok disandingkan dengan perangkat yang juga tipis dan ringan serta tidak repot saat membawanya.
  4. Rechargeable: Perangkat keyboard ini sudah built-in baterai yang dapat diisi ulang. Satu kali pengisian ulang dapat bertahan hingga satu bulan.

Versi lanjutan dari Microsoft Universal Keyboard adalah Microsoft Universal Foldable Keyboard yang ukurannya lebih tipis (ketebalan 5mm), full-size keyboard, dan spill-resistant.

iPad-Keyboard-01

Privasi dan Keamanan Smartphone

Bagaimana data pribadi pengguna di smartphone diperlakukan dan dikelola? Apa saja yang perlu diperhatikan untuk menjaga data pribadi dan mengurangi ancaman keamana?

Privasi dan keamanan merupakan dua hal yang berbeda. Di era digital dengan persebaran informasi yang serba cepat, keamanan perangkat yang kita gunakan untuk menyimpan data pribadi merupakan prioritas. Namun, apakah menggunakan perangkat yang aman saja sudah cukup?

Handphone yang sehari-hari kita gunakan kini hampir semuanya smartphone. Android dari Google dan iOS dari Apple merupakan dua penyedia sistem operasi yang hampir mendominasi smartphone. Di dalamnya, kita menyimpan banyak data pribadi dan profil. Bukan lagi sekedar data pribadi pemilik handphone itu saja, tetapi juga profil saudara, kawan, dan kolega. Mana yang lebih baik diantara keduanya?

Menjaga Privasi

Android menduduki peringkat lebih rendah dibandingkan iOS. Android mempersyaratkan pengguna bersedia profil dan perilakunya dalam menggunakan perangkat Android dikirimkan ke server analtik Google. Google menggunakan data ini secara kolektif untuk targeted advertising dan membangun profil penggunanya. Ini membuat Android lebih bisa menyesuaikan dengan penggunanya dalam hal penyajian konten, tetapi kurang terjaga privasinya bagi pengguna.

Apple cukup vokal dalam komitmennya untuk menjaga privasi pengguna, lebih banyak menyimpan data secara lokal di perangkat pengguna dan mengirim lebih sedikit data ke server Apple.

Keamanan Perangkat

Apple iOS memiliki level keamanan lebih tinggi dibandingkan Google Android. Apple melakukan screening lebih mendalam terhadap setiap aplikasi yang akan disajikan di App Store. Hasil screening ini juga secara mandatory turut menentukan kelayakan sebuah aplikasi ditampilkan di App Store.

Android merupakan sistem yang lebih terbuka. Play Store miliknya menjanjikan kemudahan bagi siapapun pengembang untuk menampilkan aplikasinya di Play Store less screening. Hal ini mengakibatkan mudahnya pengembang menginjeksikan malware dalam aplikasi. Beberapa bulan lalu Google menghapus 145 aplikasi dari Play Store setelah menerima laporan dari sebuah perusahaan keamanan siber adanya aplikasi di Play Store yang mengandung malware dan mengambil data pengguna.

Security Update

Lagi-lagi Android lemah dalam kontrol terhadap update software, termasuk menjadikannya lebih jarang dalam mengirimkan security update terhadap perangkat Android pengguna. Beberapa tahun lalu periset bidang keamanan menemukan bug pada sistem operasi Android yang dapat menyebabkan lebih dari 950 juta penggunanya rawan terhadap serangan hacker.

Sementara, Google meski bisa segera memperbaiki bug kenyataannya tidak memiliki kontrol update terhadap perangkat keluaran produsen smartphone dan perangkat bundling dengan operator seluler. Kondisi ini menjadi sulit bagi Google untuk mengirimkan security update atau pembaruan sistem operasi Android. Pengguna Android sangat tergantung produsen atau operator untuk urusan security update.

Apakah menggunakan sistem yang aman saja sudah cukup?

Tentu saja tegas jawabannya, TIDAK. Pengguna tetap memiliki tanggungjawab menjaga data pribadinya dan harus lebih cerdas dalam menggunakan smartphone.

Mengamankan handphone hanya sebagian aspek. Dalam hal privasi, pengguna sebaiknya lebih memperhatikan lagi aplikasi apa saja yang akan disematkan di smartphone. Pengguna sebaiknya menelisik lebih dalam terhadap kebijakan privasi pembuat aplikasi dan permissionapa saja yang diperlukan oleh aplikasi terhadap data-data di smartphone. Beberapa aplikasi meski tidak relevan terkadang masih meminta persetujuan untuk membaca kontak, membaca SMS, dan menggunakan data GPS. Berhatikan dan pertimbangkan betul dampaknya apabila akan memberikan akses oleh aplikasi.

Memiliki smartphone yang lebih aman tidak serta merta membuat kita terbebas dari pencurian data pribadi. Kejadian Facebook dengan Cambridge Analytica merupakan contoh serius bahwa sekali kita membuka akses penyedia aplikasi terhadap data pribadi kita, kita tidak bisa mengontrol lagi ke mana data itu akan tersebar.

Gunakanlah perangkat yang lebih aman, tapi pada akhirnya kita juga tetap harus mencegah data pribadi kita yang tidak ingin kita sebarkan supaya tidak diakses oleh aplikasi yang tidak kita inginkan. Sekali lepas, kita kehilangan kendali.