Membantu Sebelum Interview

Saya sudah beberapa kali di tempat usaha melakukan interview terhadap calon karyawan. Kebanyakan calon karyawan yang saya interview adalah lulusan baru, beberapa lainnya dengan pengalaman kerja antara satu sampai dua tahun.

Pernah suatu ketika ada seorang calon karyawan menghubungi saya meminta saran beberapa hari sebelum interview. Saya hanya memberikan saran supaya berpakaian rapi, pelajari informasi sehubungan dengan perusahaan (bisa melalui website), dan tidak perlu canggung saat interview. Saat interview, dalam salah satu percakapan si calon karyawan mengutarakan yang intinya sudah berkomunikasi sebelumnya dengan saya. Kebetulan kami lakukan interview melalui conference call, sehingga tidak ada kata canggung karena tidak berhadapan muka secara langsung.

Celaka, setelah selesai sesi interview saya ‘disidang’ oleh tim karena dianggap mengarahkan dan telah memiliki preferensi terhadap calon karyawan. Sementara saya beranggapan bahwa saran saya itu pun saran yang wajar karena dimana pun itu hampir semua calon karyawan melakukan hal yang sama, termasuk yang saya lakukan saat pertama kali menjadi calon karyawan.

Meski pada akhirnya si calon karyawan yang dimaksud hanya menjadi ‘runner up’, saya masih dianggap membantu. Karena sebelum kami mencari calon karyawan baru untuk posisi yang sama pada rekrutmen berikutnya, biasanya kami menghubungi si ‘runner up’ terlebih dahulu.

Datang dan Pergi

Dalam dinamika berkehidupan, kita dihadapkan dengan banyak orang yang seringkali datang dan pergi begitu saja dari hadapan kita. Tentu saja termasuk dalam urusan mergawe, beberapa orang partner kita akan pergi dan berganti dengan orang lain. Sepanjang tahun lalu sampai awal tahun ini ada beberapa orang sekawanan saya yang berhenti dari pekerjaannya, kemudian ada beberapa orang yang masuk menggantikannya. Hal yang demikian terjadi di banyak tempat.

Saya jarang merasa bersedih dengan kepergian setiap orang dalam pekerjaan. Mengapa demikian? Saya mendapati bahwa saya menempatkan setiap partner saya sebagai hubungan sosial dan perorangan. Kalau kebetulan ada dalam posisi kesamaan pekerjaan, itu adalah bonus.

Kalau suatu ketika orang berhenti dari pekerjaannya, hubungan secara personal tidak serta-merta juga berhenti. Pun, komunikasi tak selalu urusan pekerjaan. Banyak hal yang bisa dikomunikasikan dan berbagi bersama dalam urusan lain. Karena hubungan antar manusia itu disebut sebagai hubungan sosial, bukan sekedar hubungan kerja (industrial).

Tingkatan tertinggi keimanan manusia dalam urusan dunia tertuang dari keberhasilannya dalam berkehidupan sosial.

Akhir Pekan di Jakarta (Utara)

Berakhir pekan di Jakarta bagi sebagian orang rasanya menjadi hal nyeleneh untuk dilakukan. Bagi orang yang keseharian makaryo di Jakarta, pilihan untuk berakhir pekan adalah keluar kota. Entahlah keluar kota ke Bogor, Sukabumi, Cianjur, Banten, atau Bandung.

Jakarta, bagi orang jarang piknik semacam saya adalah pilihan tempat untuk berakhir pekan. Maksudnya ya hanya berdiam diri di Jakarta entah itu di rumah, sesiblon di kolam renang, di kamar, atau sesekali mlipir sedikit ke mall terdekat.

Awal-awal periode saya tinggal di Jakarta, saya cukup malas untuk sekedar mengetahui dan menjelajah obyek wisata di Jakarta (Jakarta lho ya, bukan kota penyangga Jakarta). Sekedar ngerti dan pernah ke Kota Tua, Museum Keramik (masih di sekitar Kota Tua juga), Kompleks sekitaran Ancol, dan Ragunan. Sisanya, sebatas pernah mendengarkan bahwa di Jakarta ada ini-itu. #ngenesBanget

Akhir pekan lalu, katalog wisata Jakarta saya bertambah. Di Jakarta sebelah utara masih ada gugus kepulauan seribu, iya masih Jakarta kok. Ya meskipun yang saya kunjungi hanya tiga pulau dari “seribu” pulau di Kepulauan Seribu.

Flash back, sekira satu bulan yang lalu saya mendapatkan shared image di WhatsApp yang sepertinya shared image ini tersebar cukup viral dari satu grup ke grup lain. Setelah saya telusuri, saya temukan sumber gambarnya ada di akun instagram @airisjourneys seperti yang ada di footer image.

Harga Rp75.000,00 memang harga normal dan wajar menurut beberapa intelijen. Sepertinya tanpa ikut open trip itu pun beberapa orang diantara teman-teman saya juga sanggup untuk berangkat mengelilingi tiga pulau (atau lebih) di sekitar Kepulauan Seribu. Tetapi open trip AIRIS Journeys itu sepertinya menjadi sebuah trigger untuk merealisasikan hajat trip week end yang sebelumnya sudah terencana dan hampir saja berakhir menjadi hanya sebatas wacana. Akhirnya terregistrasi nama 9 orang yang dikomandani oleh Indra dengan anggota Wildan, Data, Putri, Bayu DJ, Bayu Mbantoel, Yuninggar, saya, dan Ivan.

Pada hari yang telah ditentukan, ternyata muncul keadaan kahar (force majeure) yang menimpa Ivan atas nama pekerjaan. Jadilah berdelapan saja mengarungi lautan bersama sekitar seratus orang lainnya yang turut menyertai keberangkatan. Pulau-pulau tujuannya adalah Pulau Kelor, Pulau Onrust, dan Pulau Cipir. Titik pertemuan seluruh peserta ada di dermaga Muara Kamal. Butuh waktu hampir satu jam untuk menemukan dan sampai di dermaga tersebut dari titik transit di sekitar Jl. Samali – Pasar Minggu.

Pulau Kelor (Pulau Kherkof)

Pukul 09.30 pagi kloter pertama sampai kloter ketiga diberangkatkan hampir bersamaan menuju Pulau Kelor. Butuh waktu sekira satu jam sampai di Pulau Kelor. Pulau Kelor dikenal karena adanya benteng Martello. Pulau ini juga dianggap sebagai kherkof (orang melafalkan “kerkof”) yang artinya gerbang atau pintu masuk. Konon di pulau ini dikuburkan beberapa korban pemberontakan kapal HNLMS Zeven Provincien. Yang menarik di pulau ini menurut saya adalah nilai sejarahnya, keunikan sisa-sisa benteng, dan photogenic.

Note: tidak boleh menaiki bangunan utama maupun reruntuhan benteng Martello. (DIBACA YA)

Pulau Kapal (Pulau Onrust)

Destinasi selanjutnya adalah Pulau Kapal atau Pulau Onrust, sampai di Pulau Onrust sekitar pukul 12 siang. Di pulau inilah baru bisa makan siang sekaligus selanjutnya terdapat tempat ibadah untuk yang melakukan ibadah siang. Pulau Onrust artinya pulau sibuk (tidak pernah istirahat). Sesuai namanya, konon pulau ini dulunya menjadi pusat kegiatan galangan kapal yang sangat ramai dan sibuk. Pulau ini bisa dikatakan menjadi pulau induk dari tiga pulau yang dikunjungi. Di Pulau Onrust terdapat reruntuhan bangunan, reruntuhan benteng, kuburan pribumi, kuburan Belanda, dan museum. Selain pernah dimanfaatkan sebagai pusat galangan kapal, pulau Onrust pernah dijadikan sebagai tempat karantina penderita TBC, tempat karantina jamaah haji, tempat tawanan peristiwa pemberontakan HNLMS Zeven Provincien, penjara Jepang, dan setelah kemerdekaan pernah dijadikan tempat menampung penderita penyakit menular dan penampungan gelandangan.

Note: Katanya, pulau ini pernah disinggahi oleh Kapten Cook yang menumpang kapal HMS Endeavour. Keren ya…

Pulau Cipir (Pulau Kuyper)

Pulau Cipir sebagai destinasi terakhir baru didatangi menjelang pukul 3 sore. Di pulau ini terdapat reruntuhan bangunan yang agak sedikit lebih utuh dibandingkan dengan yang ada di Pulau Onrust. Dahulu pulau ini juga pernah dijadikan tempat karantina jamaah haji pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Di pulau Cipir inilah kegiatan terakhir sebelum kembali ke Pulau Jawa dilakukan, yaitu pelepasan lampion. Dari sesampainya di Pulau Cipir hingga pelepasan lampion, ada waktu sekitar 2 jam menganggur. Sebagian yang ikut serta dalam open trip menghabiskan waktu dengan berkeliling ke segala penjuru pulau, bermain air, atau sekedar duduk menikmati senja. Saya memilih tiduran di ujung pantai pada sisi yang menghadap ke pulau Kelor. Selepas acara pelepasan lampion, jamaah open trip pun kembali ke kapal masing-masing untuk diantarkan kembali ke dermaga Muara Kamal.

Terimakasih

Semua keperluan perjalanan dari dermaga Muara Kamal menuju tiga pulau sampai kembali lagi ke dermaga Muara Kamal telah disiapkan AIRIS Journeys. Menurut akun instagram-nya, akan diselenggarakan open trip serupa pada tanggal 11 Oktober 2015 dengan pelepasan lampion lebih banyak. Thanks to AIRIS Journeys, terimakasih juga Ivan yang meski mengalami force majeure tetapi paket tetap dikirimkan untuk delapan orang lainnya, serta Bayu DJ yang menyediakan additional accessories dari paket yang dikirimkan Ivan.

Wiwitan

Wiwitan berarti permulaan bukan wit-witan yang berarti pepohonan, dahulu kala merupakan suatu tradisi yang sangat familiar di kalangan petani yang hidup di pedesaan. Meski artinya permulaan tapi bukan berarti permulaan untuk musim tandur (bercocok tanam), justru wiwitan dilakukan sebelum panen raya. Setiap pemilik sawah berbeda-beda dalam menentukan kapan prosesi wiwitan ini dilakukan, bergantung pada umur tanaman, kapan mau dipanen, dan juga kata kakek saya (yang juga petani) manut weton.

Yang dilakukan dalam wiwitan ini petani membuat nasi tumpeng dan ubarampe-nya dibawa ke sawah yang sudah siap panen. Biasanya ketika mau berangkat ke sawah sore hari si petani ngundang anak-anak kecil, “wiwitan… wiwitan… wiwit…” dan serta merta anak-anak datang berkumpul ke rumah petani atau nyusul ke sawah. Di sawah sudah standby pak kaum (orang yang dituakan di dusun).

Setelah tumpeng sampai di sawah, dilakukan prosesi wiwitan dimulai dari pak kaum yang mendoakan di depan tumpengan supaya panennya memuaskan, membawa kemakmuran, dan berkah, dan manfaat bagi sang pemilik sawah. Selanjutnya pak kaum memanen sedikit dari tanaman yang siap panen itu barang sak pencasan (satu tebasan) sebagai pertanda tanaman sudah bisa dipanen esok hari. Nasi tumpeng pun dipotong, ujung tumpeng-nya ditinggal di sawah, dan sisanya dibagikan ke anak-anak yang datang dan ngamini doa-nya pak kaum tadi. Pak kaum hanya mendapatkan hasil panen sak pencasan sebagai “upah” telah mendoakan.

Tradisi wiwitan ini sudah jarang dilakukan oleh petani-petani di dusun saya. Hanya beberapa keluarga petani tua yang masih melakukan tradisi ini, termasuk kakek saya kalau menjelang panen padi.

Dua Kali Mudik Lebaran

Tahun ini adalah kali kedua saya mudik lebaran dari Jakarta. Sebelum menjadi migrant di Jakarta, saya paling pol mudik hanya dari Yogyakarta ke rumah orangtua di Magelang. Pekerjaan dan takdir telah menyeret saya ke delta sungai Ciliwung yang disebut Jakarta dan mengenal “mudik”.

Beberapa tahun sebelum saya mengalami sendiri mudik dari Jakarta, dalam persepsi saya mudik adalah tradisi yang sangat banyak menghabiskan sumber daya. Jelas yang harus keluar dari tiap individu-individu pemudik paling utama adalah waktu. Beberapa saudara saya (keluarga besar kakek-nenek saya, dari ibu) mudik dari Tangerang dan dalam beberapa tahun belakangan sedikitnya menghabiskan waktu untuk perjalanan Tangerang-Magelang selama 20 jam menggunakan kendaraan pribadi.

Saya dalam dua kali mudik lebaran selalu mengandalkan kereta api sebagai moda transportasi utama. Saya lebih memilih menggunakan kereta api karena dari segi jumlah “penumpang” yang harus bersama saya paling pol dua sampai tiga orang. Itu pun sesampai di stasiun tujuan langsung bubar jalan, menyebar ke arah rumah masing-masing. Selain itu dari sisi waktu, moda transportasi kereta api bisa memberikan kepastian lebih presisi mengenai keberangkatan dan sampainya di stasiun tujuan. Berbeda dengan melalui jalan raya yang swing ETA (estimated time arrival) bisa sangat lebar tergantung kondisi jalan raya, volume kendaraan, dan banyak faktor-faktor lain yang menjadi variabel saling berpengaruh.

Untuk saat ini memang bisa dihitung perkiraan kalau biaya menggunakan moda transportasi kereta api non-PSO (tidak disubsidi) masih jauh lebih mahal dibandingkan dengan menggunakan mobil pribadi. Katakanlah untuk BBM kendaraan pribadi kelas 1500cc Jakarta-Magelang kira-kira menghabiskan Rp650.000,00 (non-subsidi), pun itu bisa mengangkut –supaya tetap nyaman- empat orang. Dua kali perjalanan sekira menghabiskan Rp1.500.000,00 (ditambah biaya lain-lain) untuk 4 orang. Bandingkan dengan kereta api yang katakanlah naik kelas eksekutif murah Rp300.000,00 dikalikan 4 orang sekali jalan sudah menghabiskan Rp1.200.000,00, dua kali perjalanan Rp2.400.000,00. Terlampau lebih mahal dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi.

Pun begitu, untuk saat ini saya masih lebih memilih menggunakan kereta api meski lebih mahal.

Entah kalau kemudian hari saya sudah berkeluarga (kapan ya?) dengan beberapa anak dan perlu berhajat mudik, saya akan mempertimbangkan efektifitas mudik menggunakan kereta api, apakah masih memungkinkan. Maksud saya, apakah nantinya tidak repot di kampung halaman saat harus sowan-sowan ke rumah simbahnya anak-anak atau ke sedulur-sedulur. Terlebih, saat-saat awal lebaran biasanya sarana transportasi umum di kampung halaman saya bisa dibilang sangat terbatas (hampir bisa dibilang tidak ada).

Mungkin masih bisa tetap naik kereta api (saya phobia naik pesawat) untuk kemudian di kampung halaman bisa sewa mobil, tetapi kemudian muncul lubang baru yang menghabiskan sumber daya, biaya-biaya yang sangat tinggi.

Entah menghabiskan waktu maupun biaya tinggi, tetapi menurut saya mudik membawa banyak manfaat silaturahim, silaturahmi, membantu pemerataan peredaran uang, dan masih banyak manfaat lain yang menurut saya itu jauh lebih banyak manfaat daripada mudharat. *tenan lho*

Saya masih cukup bersyukur untuk mudik meski sudah tidak disubsidi pemerintah pun masih bisa melakoni. Kakak saya yang nyantrik ngajar ilmu Fisika Dasar di Palangkaraya setiap mudik sekali perjalanan per gundul harus keluar sekitar Rp1.200.000,00 padahal sudah berkeluarga, mudik dengan satu anak dan satu istri.

Ya, persaudaraan dan kekerabatan bukanlah sesuatu yang dapat ditafsirkan dalam rupiah.