Nandur, Menanam

Saya masih ingat, ungkapan “Nandur Woh Ngangsu Kawruh” menjadi tema utama festival Tlatah Bocah bertahun-tahun silam. Menanam benih memetik pelajaran, kira-kira begitu artinya. Tahun ini, Festival Tlatah Bocah yang tengah digelar di sekitaran lereng Merapi Magelang membawa tema “Holopis Kuntul Baris”.

Saya masih ingat, ungkapan “Nandur Woh Ngangsu Kawruh” menjadi tema utama festival Tlatah Bocah bertahun-tahun silam. Menanam benih memetik pelajaran, kira-kira begitu artinya. Tahun ini, Festival Tlatah Bocah yang tengah digelar di sekitaran lereng Merapi Magelang membawa tema “Holopis Kuntul Baris“. Gotong royong, berbondong-bondong menuju kebajikan. Itu persepsi saya.

Kembali menyoal “nandur”, keseharian kita adalah menanam.

Apa yang kita ungkapkan dan bagaimana perilaku kita adalah benih yang kita tanam. Benih itu tumbuh sebagai pohon persepsi di kepala orang lain. Bisa dipanen pada saat itu juga, bisa juga suatu saat ke depan baru ketemu imbalan/balasannya, bahkan saat tanpa kita harap dan tanpa kita menyadarinya.

Evaluasi, dari situlah sesungguhnya kita memetik pelajaran dari apa yang kita tanam. Apa menghasilkan kebaikan untuk diri sendiri, baik bagi keluarga, baik bagi manusia, kebajikan bagi semesta. Atau sebaliknya, menghasilkan keburukan.

Bila telah lacur menghasilkan keburukan. Menanam benih baik merupakan cara untuk mengubah. Mengganti tanaman yang buruk dengan yang baik. Namun, tanaman bisa ditebang, akarnya tetap tinggal di kepala orang lain.

Berbuat baik tidak selalu dipersepsikan kebaikan di kepala orang lain. Elok dalam berperilaku tidak selalu dipersepsikan kebaikan di kepala orang lain. Beretika dalam pergaulan tidak selalu dipersepsikan kebaikan di kepala orang lain. Jika saja yang baik, indah, elok, pun masih bisa dipersepsikan jelek, apalagi dengan yang tidak baik.

Tanamlah benih yang baik.

Semoga Tuhan membimbing kita semua dalam menanam kebaikan dan keindahan.

Written, Return

Gara-gara salah satu karyawan di suatu instansi agak keinggris-inggrisan, rapat dua hari lalu menjadi kurang efektif. Maksudnya pembahasan tidak fokus pada permasalahan yang ada, yaitu keterlambatan pembayaran.

“Itu pernyataan keberatannya kami mau <riten> ya, Pak.”

Huruf e diucapkan seperti saat mengucapkan kepala.

Kami seisi ruangan lima orang sebenarnya bingung memahami ucapan tersebut (kecuali yang ngomong). Satu diantara kami lantas entah apa yang dipikirannya bertanya:

“Kok malah dibalikin sih, Mbak?”

“<riten>, Pak. Bukan <ritern>. Tertulis.”

Karena antara tanpa sisipan r atau dengan sisipan r di tengah hampir tak terdengar, kami berempat pun memahaminya berbeda, dikembalikan.

Mungkin karena saya terbiasa mendengarkan <reitn> untuk written, lainnya <wraiten>, atau sebagaimana tulisan aslinya <written> untuk written maka kami agak bingung karena kata yang diucapkan <riten> juga terdengar seperti return.

Sayangnya, diskusi mengenai mana yang benar antara <riten>, <reitn>, <wraiten>, dan <written> untuk menyatakan “tertulis” ini justru berlanjut hampir 20 menit hingga waktu rapat sesungguhnya habis. Itu pun tanpa menghasilkan kesimpulan yang memadahi dan meyakinkan mana yang benar pengucapannya.

Googling? Sayangnya di ruang rapat tersebut kami sepakat semua peserta tidak ada yang diperbolehkan membawa perangkat telekomunikasi digital maupun alat perekam dalam bentuk apapun.

Tujuan rapat sore itu hampir saja tidak tercapai seandainya tidak ada waktu tambahan 10 menit.

Pertanyaan saya pada penutupan rapat:

Kenapa sih nggak pakai Bahasa Indonesia aja? Sekalipun menggunakan Bahasa Indonesia nggak formal, kan kita semua pasti lebih ngerti maksudnya.


Setelah mencari-cari, ternyata ada beberapa variasi pelafalan yang salah satunya adalah <ritn> dengan penekanan pada huruf r di depan, penekanan t di tengah, dan mati n. Orang Jawa bilang “n dipangku”. Tidak hanya di Indonesia, di mana pun di dunia ini untuk setiap bahasa juga memiliki berbagai variasi logat.