Berita Pemantauan Merapi 3 Oktober 1933

Kepala penelitian vulkanologi, Dr. Stehn pergi ke puncak Merapi pagi ini. Kubah lava utama telah menghilang. Aktivitas solfatara minim, situasi hampir tetap stabil, materi yang terlontar dan gejala api minim.

Sketsa peta Gunung Merapi dan sekitarnya, yang menunjukkan daerah yang terkena dampak dari bencana Merapi pada bulan Desember 1930. Untuk informasi lebih lanjut, lihat bagian “Oost-Indië” dalam koran kami hari ini.

SITUASI TETAP TIDAK BERUBAH

BANDUNG, 3 Oktober. (Aneta.) Kepala penelitian vulkanologi, Dr. Stehn pergi ke puncak Merapi pagi ini. Kubah lava utama telah menghilang. Aktivitas solfatara minim, situasi hampir tetap stabil, materi yang terlontar dan gejala api minim.

**(Di bawah kubah lava utama, ada yang disebut sebagai prop vulkanik. Pada bulan Desember 1930, sebuah prop dikeluarkan, di mana aliran lava mengalir ke arah barat daya, menuju Muntilan -lihat sketsa di tempat lain dalam koran ini-. Setelah itu, sebuah prop baru terbentuk, yang sekarang sedang dibahas. Berita hari ini, untungnya, tidak menunjukkan tanda-tanda letusan yang bisa berakibat fatal bagi penduduk).**

Exploring the Mystical Depths of Sêrat Darmagandhul

Daily writing prompt
What’s a book you never finished but still think about?

Sêrat Darmagandhul stands as one of the most provocative and fiercely debated literary works to emerge from Java during the late nineteenth and early twentieth centuries. Formatted as a collection of sung poetic verses known as Macapat, this ancient text captures a profound philosophical dialogue between a spiritual master, Kiai Kalamwadi, and his inquisitive disciple, Darmagandhul. Throughout their exchange, Kiai Kalamwadi unveils the long-guarded secrets surrounding the tragic fall of the Majapahit Empire and the subsequent religious transformation of Java from Shiva-Buddhism to Islam. These esoteric insights and historical accounts were bequeathed to Kalamwadi by his teacher, Raden Budi, explicitly intended to serve as a vital lesson for future generations seeking to understand their cultural lineage.

Darmagandul

The narrative crafted within Darmagandhul portrays the twilight of Majapahit as a period marked by intense political betrayal and existential grief. It recounts how the legendary empire was brought to ruin through a military campaign launched by the Demak Sultanate under the command of Raden Patah, also known as Senapati Jimbun—who was, ironically, the biological son of King Brawijaya V himself. This dramatic dynamic highlights the chaotic clash of political allegiance and shifting religious paradigms during this transitional era. Amidst the rising tide of war, Syekh Siti Jenar emerges as a solitary, unyielding figure of spiritual authority who openly rejects Demak’s military aggression against Majapahit, an act of defiance that ultimately results in his execution.

Ever since its initial publication in the early twentieth century, Sêrat Darmagandhul has ignited fierce historiographical disputes among scholars, cultural historians, and theologians alike. Certain commentators have interpreted the text as a candid, uncensored record of historical realities during Java’s religious transition, whereas others dismiss it as mere satirical fiction born out of cultural resistance against the rapid expansion of Islam. This polarising reception has historically left the manuscript vulnerable to biased interpretations, often weaponised or discredited depending on the ideological stance of its readers.

This analytical work by Damar Shashangka undertakes an objective, scholarly examination of Sêrat Darmagandhul, stripping away emotional bias and sectarian prejudice. Rather than accepting the manuscript’s claims at face value or dismissing them entirely as heresy, the author applies a rigorous critical lens to place the text within a balanced socio-historical context. Through careful translation and critical annotations, the book invites readers to evaluate how this controversial piece of Javanese literature interacts with the broader historical reality of the Indonesian archipelago.

At the heart of Shashangka’s methodology is a comprehensive cross-examination of the manuscript’s claims against primary historical evidence. The author systematically juxtaposes the events described in Darmagandhul with authentic historical artifacts, including ancient stone inscriptions, Old Javanese kakawin poems, classical babad chronicles, foreign records such as Chinese annals, and oral traditions preserved across Java and Bali. This meticulous historical triangulation effectively illuminates the boundaries between actual historical events and the deliberate political allegories embedded within the text.

Beyond its historiographical scrutinisation, the book dedicates substantial attention to unpacking the intricate mystical doctrines woven into the conversations between Kalamwadi and Darmagandhul. Shashangka dissects these esoteric teachings through a comparative framework, evaluating them across three distinct spiritual paradigms: Islamic Sufism, Shiva-Buddhism, and Javanese mysticism, known as Kejawen. This tripartite analysis reveals a sophisticated syncretic dialogue, illustrating how diverse metaphysical concepts influenced and challenged one another during Java’s era of profound transformation.

Ultimately, the text contextualises Sêrat Darmagandhul as an invaluable psychological document and socio-cultural reflection of the Javanese populace enduring a epochal shift in power and faith. The sharp satire and controversial rhetoric within the manuscript are framed as cultural expressions reacting to radical societal upheaval. Consequently, the book encourages readers to engage with classic literature maturely and critically, free from emotional dogma or religious antagonism.

Gempa Bumi Bengkulu 31 Mei 1896

Berita dari Residen Bengkulu menyebutkan bahwa pada sore hari tanggal 31 Mei lalu di Manna, guncangan vertikal gempa bumi yang cukup kuat dirasakan. Di Bintuhan pada hari yang sama, juga pada sore hari, gempa bumi horizontal terjadi dari arah timur ke barat. Gempa tersebut berlangsung sekitar lima detik. Laporan yang diterima oleh Residen Palembang dari asisten residen Komering dan Ogan Ulu, Enim, dan distrik Ranau, melaporkan bahwa di Muara Dua pada sore hari tanggal 31 Mei lalu, guncangan ringan gempa bumi dirasakan.

Gempa Bumi Jawa Tengah 21 Januari 1931

Observatorium Batavia mencatat pada pagi ini pukul 07.04 WIB gempa bumi besar dari arah Timur-Tenggara, jaraknya 300 KM. Pada pagi ini pukul 7.00, guncangan tanah ringan teramati di Pakis, Tegalrejo, dan Magelang.

GEMPA BUMI

BATAVIA. Observatorium mencatat pada pagi ini pukul 7.04 WIB gempa bumi besar dari arah Timur-Tenggara, jaraknya 300 KM. (Aneta).

MAGELANG. Pada pagi ini pukul 7.00, guncangan tanah ringan teramati di Pakis, Tegalrejo, dan Magelang. (Aneta).

YOGYAKARTA. Pagi ini, akibat gempa bumi, stasiun Purwokerto di Patuguran retak. Stasiun dan rumah dinas di Bumiayu juga mengalami keretakan. (Aneta).


Menulis dan Coding dengan Sentuhan Personal

Menulis di era digital ternyata tidak harus selalu ribet atau butuh otomasi yang canggih. Sebagai seseorang yang kesehariannya akrab dengan dunia tulis-menulis, aku justru menemukan kalau kecerdasan buatan (AI) bisa jadi teman kolaborasi yang asyik, bahkan dalam hal-hal yang paling sederhana sekalipun. Pengalamanku berinteraksi dengan AI berakar dari kebutuhan praktis sehari-hari. Bagiku, teknologi ini tidak perlu diposisikan sebagai pengganti kreativitas, melainkan sebagai asisten pribadi yang siap meringankan beban teknis tanpa merusak keaslian karya yang kubuat.

Mengingat bahasa Indonesia adalah bahasa ibu, aku selalu merasa kalau ide, gagasan, dan emosi bisa mengalir jauh lebih natural saat dituangkan dalam bahasa tersebut. Kendati demikian, tuntutan zaman sering kali mengharuskan tulisanku agar bisa dinikmati oleh audiens yang lebih luas secara global dalam bahasa Inggris. Di sinilah bentuk penggunaan AI yang paling sering kulakukan dimulai, yakni sebagai alat penerjemah. Aku biasanya merampungkan seluruh draf pemikiran secara utuh dalam bahasa Indonesia terlebih dahulu, meresapi setiap nuansanya, sebelum akhirnya meminta AI untuk mengalih bahasakannya ke dalam bahasa Inggris.

Tentu saja, aku tidak hanya sekadar melakukan copy-paste secara mentah. Aku memanfaatkan AI untuk merapikan struktur kalimat agar hasil terjemahannya terasa lebih presisi dan mudah dipahami oleh pembaca internasional. Terjemahan mentah sering kali terasa kaku atau kurang mengena, jadi aku biasanya meminta AI untuk memperhalus frasanya. Cara ini terbukti sangat ampuh memangkas waktu tanpa harus membuatku stres merangkai kalimat bahasa Inggris dari nol, sementara esensi dan nyawa dari tulisanku tetap murni berasal dari kepalaku sendiri.

Di luar urusan kata-kata, aku juga sering melibatkan AI untuk mempermanis tampilan visual dari tulisanku, terutama dalam menciptakan featured image atau gambar utama artikel. Ilustrasi visual ini sangat membantu untuk menarik perhatian pembaca sejak pandangan pertama sekaligus memberi gambaran awal tentang topik yang kubahas. Meski begitu, aku selalu memegang prinsip etika yang jujur dengan menyematkan informasi secara transparan kepada pembaca bahwa gambar tersebut kubuat dengan bantuan teknologi AI.

Tidak jarang pula, proses menulisku berawal dari remahan ide atau pemikiran acak yang melintas begitu saja di kepala. Dalam momen seperti itu, aku biasa menjadikan AI sebagai teman ngobrol untuk brainstorming mematangkan ide mentah tersebut. Setelahnya, aku meminta bantuan AI untuk merumuskan kerangka tulisan atau sekadar mencari sudut pandang lain yang mungkin terlewat olehku. Tentu saja, aku tidak pernah menelan mentah-mentah hasilnya; kendali penuh tetap ada di tanganku dengan melakukan koreksi teliti agar arah tulisannya selaras dengan visiku.

Di luar urusan tulis-menulis, ada satu hal lain yang porsi penggunaannya bahkan jauh lebih sering kulakukan, yaitu meminta AI untuk membantu memodifikasi program komputer atau yang biasa disebut sebagai vibe coding. Saat membangun struktur kode dasar, AI sangat bisa diandalkan untuk mempercepat penulisan baris kode yang repetitif atau menyediakan templat fungsional. Bantuan ini membuat proses ngoding jadi jauh lebih efisien sehingga energiku tidak terkuras habis untuk hal-hal yang bersifat mekanis.

Kendati demikian, aku punya batasan yang tegas. Untuk urusan logika program yang rumit, pencarian bug yang krusial, atau algoritma yang menuntut ketelitian tinggi, aku jauh lebih mempercayai kemampuan otakku sendiri. AI bagiku hanyalah alat bantu penunjang untuk mempercepat pekerjaan kasar, sementara kendali penuh atas kualitas akhir kode tetap berada di bawah tanggung jawabku.

Hal yang paling kusyukuri dari semua kebiasaan ini adalah bagaimana seluruh proses tersebut tidak harus bergantung pada server cloud komersial yang besar atau koneksi internet yang stabil. Hampir untuk semua hal yang kusebutkan tadi, mulai dari menerjemahkan, memperbaiki kalimat, bikin gambar, brainstorming, hingga memodifikasi kode, aku menggunakan local model yang berjalan secara mandiri di komputer pribadiku. Pendekatan ini memberiku kebebasan penuh, fleksibilitas tinggi, serta rasa aman karena privasi data dan pekerjaanku tetap terjaga seutuhnya.

Menjalankan local model di perangkat sendiri memberikan pengalaman kerja yang sangat privat dan bisa diandalkan kapan saja, bahkan saat aku sedang offline tanpa internet. Dengan mengandalkan spesifikasi perangkat keras yang memadai di rumah, semua proses AI yang praktis ini berjalan mulus di latar belakang. Pada akhirnya, perpaduan antara kreativitas diri, kontrol etis yang konsisten, dan dukungan teknologi local model di komputer pribadi telah menciptakan ruang kerja digital yang mandiri dan sangat produktif bagiku.

Sebagai konklusi, mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam alur kerja sehari-hari ternyata tidak selalu menuntut sistem yang rumit untuk mendongkrak produktivitas. Melalui pemanfaatan strategis model lokal untuk tugas-tugas mendasar seperti penerjemahan, visualisasi, ideasi, dan pemrograman penunjang, kita dapat memaksimalkan potensi kreatif tanpa harus kehilangan kepemilikan intelektual atas karya sendiri. Pada akhirnya, menjaga keseimbangan yang jeli antara bantuan teknologi dan ketajaman berpikir manusia adalah kunci utama agar teknologi tetap menjadi alat yang melayani, alih-alih mendominasi esensi kita sebagai manusia.